Pelaku ekspor masih menimbang ikut berpartisipasi dalam pelayaran langsung melalui KKT. Biaya transportasi menuju pelabuhan dan handling masih dirasa memberatkan. (dok humasprov) SAMARINDA, DISWAYKALTIM.COM– Pelayaran ekspor langsung (Direct Call) dijadwalkan mulai aktif pada 22 Maret mendatang. Bahkan rencananya akan dilepas secara seremonial oleh Gubernur Kaltim Isran Noor. Namun hal berbeda dirasakan salah satu calon eksportir direct call dari perusahaan pengolah kayu, Sumalindo Lestari Jaya (SLJ) Global. Eko Arief Suratmono, DCE. Human Resources PT SLJ Global mengaku belum mendapat kepastian tentang pelaksanaan direct call. Baik dari pihak Kaltim Kariangau Terminal (KKT) dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop UKM) Kaltim. "Kami tetap dukung rencana ini dengan konsep B to B (business to business, Red). Bila harga dan jaminan waktu kirim bisa bersaing dengan yang ada saat ini," ujarnya pada Disway Kaltim melalui pesan WhatsApp, Rabu (11/3). Eko menyebut, pihaknya siap mengekspor produksi plywood melalui direct call sebanyak 10 hingga 15 kontainer dengan tujuan ke Korea Selatan. "Teknis saya telah mempersilakan pihak liner (Sealand Indonesia) untuk diskusi dan negosiasi dengan Marketing SLJ di Jakarta," imbuhnya. Hanya yang ia keluhkan, biaya di luar pelabuhan melalui KKT Balikpapan jauh lebih mahal dibandingkan melalui Pelabuhan Samudera Palaran (PSP), Samarinda. Seperti transportasi kontainer (trucking) dari pabrik menuju pelabuhan. Serta biaya handling di pelabuhan. "Biaya trucking ke KKT yang ditawarkan hampir 4-5 kali dari biaya trucking ke PSP saat ini," keluhnya. Namun Eko mengaku, saat ini perusahaannya sudah mendapat tawaran dari tim shipping liner (Sealand). Terkait paket trucking dan biaya pelabuhan yang cukup kompetitif. "Kami sedang pertimbangkan ke manajemen terkait tawaran mereka. Mudah-mudahan bisa berjalan rencana Direct Call tanggal 22 Maret nanti," harapnya. Sebelumnya, PT. SLJ Global mengirim barang komoditi ekspornya melalui pelabuhan peti kemas di Pelabuhan Samudera Palaran, Samarinda. Kemudian dibawa ke Jakarta dan Surabaya untuk diteruskan ke negara tujuan. Eko menjelaskan, setiap bulan perusahaannya bisa memproduksi 10.000 hingga 11.000 meter kubik plywood. Hampir 95 persen produksi tersebut, diekspor ke berbagai negara. Di antaranya Korea Selatan, Amerika Serikat, India, Jepang, Eropa, dan Taiwan. (krv/eny)
Eksportir Keluhkan Biaya Operasional Tinggi
Kamis 12-03-2020,15:15 WIB
Reporter : Benny
Editor : Benny
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 06-05-2026,06:01 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 6 Mei 2026, Cek di Sini!
Rabu 06-05-2026,12:01 WIB
Dugaan Penyimpangan Dana Desa Muara Beloan Masih Tahap Klarifikasi
Rabu 06-05-2026,09:29 WIB
Didesak Mundur, Ketua DPRD Kukar: Tidak Ada Pelanggaran Hukum
Rabu 06-05-2026,08:30 WIB
Selalu Ceria di Sekolah, Tak Ada yang Menyangka Mandala Menyimpan Rasa Sakit
Rabu 06-05-2026,12:31 WIB
Petinju Sangatta David Krisostomus Siap Debut Nasional, Wakili Kaltim di Youth Combat Championship
Terkini
Rabu 06-05-2026,22:55 WIB
Tanggapi Tambahan Insentif Guru di Daerah Terpencil, Disdikbud Kukar Tunggu Kebijakan Bupati
Rabu 06-05-2026,22:30 WIB
Kejari Kukar Tahan 4 Tersangka Kasus Kredit Fiktif, Modus Manipulasi Data Nasabah
Rabu 06-05-2026,22:15 WIB
Gaji Guru Non-ASN di Mahulu Masih Bisa Dibayar Melalui APBD Sampai Bulan Desember
Rabu 06-05-2026,21:45 WIB
Penurunan Berulang Jalan Syarifuddin Yoes, Akademisi Ungkap Dugaan Pipa Bocor hingga Tanah Jenuh
Rabu 06-05-2026,21:15 WIB