BACA JUGA : Perluas Serangan di Gaza dan Bangun Permukiman Baru di Tepi Barat, Israel Banjir Kecaman dari Negara Eropa
Samuel Charap, pakar Rusia dan Eurasia dari RAND Corporation, mengatakan pengajuan Donbas tidak mungkin menyetujui Kyiv baik secara politik maupun strategis.
“Kesediaan Rusia membuka peluang perdamaian mungkin lebih bernilai politik bagi Trump dibandingkan kompromi nyata dari Putin,” ujarnya.
Meski posisi tawar kedua pihak masih jauh, beberapa sumber menilai pertemuan di Alaska menjadi peluang diplomasi terbaik sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Trump, yang disebut ingin dikenang sebagai presiden pembawa perdamaian, dikabarkan berencana mendorong pertemuan lanjutan antara Putin dan Zelenskiy.
BACA JUGA : Singapura Kategorikan Vape sebagai Narkoba, Pengguna dan Penjual Bisa Dihukum Penjara
Namun, keraguan tetap besar. Para pemimpin Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, meragukan keseriusan Kremlin untuk benar-benar menghentikan perang.
Hingga saat ini, pasukan Rusia menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk sebagian besar wilayah Donbas.
Perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun itu menimbulkan ratusan ribu orang, jutaan melukai lainnya, dan menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di Eropa modern.
Jika negosiasi damai gagal, para pengamat memperingatkan konflik akan terus berlanjut dengan biaya yang semakin besar, baik dari sisi militer, ekonomi, maupun sosial, bagi kedua negara dan dunia internasional.