Pasangan suami istri Hendro dan Diana, mengajak para orang tua agar mau membuka diri jika memiliki ABK, dan bertukar pikiran melalui kegiatan. Fadhil (kiri) merupakan ABK dari pasangan tersebut. Tanjung Redeb, Disway - Menjadi keluarga yang dikaruniai putra memiliki kebutuhan khusus, tak membuat pasangan suami istri Hendro Pratopo dan Diana, warga Kelurahan Rinding, Kecamatan Teluk Bayur, merasa kecewa. Karena menurut mereka, hal tersebut bukanlah aib. Justru, dengan kondisi putra bungsunya dari tiga bersaudara itu, menjadikan pasangan ini semakin kompak untuk memberikan waktu yang lebih kepada anak-anaknya, terkhusus kepada Gesit Fadhilah Akbar yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Hendro mengakui, tumbuh kembang Fadhil tidak berbeda dengan anak pada umumnya, terlahir normal tanpa cacat fisik serta mendapat asupan gizi seimbang. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia si anak, kejanggalan mulai muncul, salah satunya mengalami keterlambatan berbicara, serta sulit mengontrol emosi. “Sekarang Fadhil masih duduk di kelas satu SD, sebab keterlambatan berbicara juga menjadi satu penyebab hingga di usia 10 tahun baru bisa masuk sekolah,” ujarnya. Bukan hanya mengalami keterlambatan bicara, persoalan lain yang dihadapi, yaitu sulitnya mencari sekolah negeri yang mau menampung Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau sekolah inklusi. Jikapun ada sekolah yang sudah berstatus inklusi, ketiadaan guru khusus bagi murid ABK menjadi hambatan lain. “Karena kondisi itu, terpaksa saya harus menyewa guru sendiri untuk mendampingi Fadhil menempuh pendidikan di sekolah negeri. Dan metode pendampingan menggunakan guru swasta di sekolah inklusi, saya menjadi yang pertama di Berau,” tuturnya. Hendro menyebut, memiliki ABK bukan aib yang harus ditutup-tutupi dari dunia luar, sebagian besar orang tua masih enggan membuka diri terhadap publik, jika mereka memiliki anak berkebutuhan khusus. Melihat kondisi ini, Hendro bersama istri, ingin menjembatani para ABK memperkenalkan pada dunia kuliner anak, yang dilaksanakan atas inisiatif sendiri di rumahnya. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan, ialah memasak bersama dengan orang tua serta rekan sebaya. Melalui metode ini, Hendro ingin mengumpulkan seluruh keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus, untuk berbicara dan membuka ruang pikiran orang tua mereka. Bahwasanya, anak-anak mereka memiliki hak yang sama dengan anak pada umumnya. Sehingga, perlu diperkenalkan dengan dunia luar, termasuk pendidikan formal melalui sekolah inklusi dan informal. “Mungkin, banyak orang tua yang malu karena anaknya berkebutuhan khusus, lewat kegiatan ini, anak akan berinteraksi dengan teman sebayanya dan para orang tua akan saling tukar pikiran bagaimana hak anak tetap terpenuhi tanpa harus minder atau malu,” ujarnya. “Belajar memasak akan didampingi tenaga pendamping bagi ABK,sehingga orang tua mereka dapat belajar bagaimana menghadapi ana-anak mereka yang benar,” sambung Hendro. Melalui kelas memasak, bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini, pasangan suami istri ini berharap kedepan kegiatan yang menjadi wadah interaksi ABK dapat dilakukan kembali, dengan materi yang lebih beragam. Namun, tujuan utamanya yakni memberikan pendidikan non formal. “Saya dan istri merasakan betul bagaimana memiliki anak berkebutuhan khusus. Acara yang pernah kami laksanakan, Alhamdulilah, mampu menarik minat belasan orang tua ABK untuk turut serta, semoga kedepan lebih banyak yang ikut,” tutupnya.*/ZUH/APP
ABK Bukan Aib
Rabu 26-02-2020,21:53 WIB
Reporter : admin3 diskal
Editor : admin3 diskal
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 24-09-2026,05:59 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 24 September 2026, Cek di Sini!
Kamis 24-09-2026,07:00 WIB
Plt Presiden BEM KM Unmul Mundur di Tengah Polemik Dana Donasi dan Botol Miras
Kamis 24-09-2026,10:32 WIB
Ditarget Program Pendidikan Gratis, Menkeu Bongkar Ulang Anggaran Pendidikan 2027
Kamis 24-09-2026,12:00 WIB
SK Manajer Kopdes Merah Putih Akhirnya Terbit, Apakah Berstatus Pegawai BUMN?
Kamis 24-09-2026,08:00 WIB
Terowongan Samarinda Dibuka Akhir 2026, Pengamat Ingatkan Jangan Sampai Hanya Mengeser Macet
Terkini
Kamis 24-09-2026,22:40 WIB
APBD Perubahan Kukar 2026 Jadi Rp7,9 Triliun, Dana Kurang Salur 2024-2025 Tersisa Rp2,2 Triliun
Kamis 24-09-2026,22:10 WIB
Dukcapil Kutim Dorong Pemanfaatan IKD, Warga Bisa Cek Informasi Bantuan
Kamis 24-09-2026,21:40 WIB
Petani Kampung Maluang Sukses Terapkan Integrated Farming Lewat Program Kakao PT Berau Coal
Kamis 24-09-2026,21:10 WIB
Pengurus ABPEDNAS Kukar Terbentuk, Tunggu Pelantikan untuk Mulai Kemitraan dengan Pemda
Kamis 24-09-2026,20:40 WIB