Program SUSTAIN Kutim Berlanjut hingga 2030, Petani Sawit Ditargetkan Makin Sejahtera
program SUSTAIN di Kutim untuk kesejahteraan petani sawit berlanjut hingga 2024-(Ilustrasi/ Istimewa)-
KUTIM, NOMORSATUKALTIM – Pemkab Kutim akan melanjutkan program Sustainable Landscape Initiative in Kutai Timur (SUSTAIN Kutim) Fase II yang akan berlangsung hingga 2030.
Program tersebut nantinya diarahkan untuk memperkuat produktivitas perkebunan kelapa sawit swadaya juga karet.
Termasuk membuka akses pasar lebih luas, sekaligus memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi dari penerapan praktik pertanian berkelanjutan.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan pengembangan sektor perkebunan tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi.
Pemerintah daerah juga harus memastikan komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan karet mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
BACA JUGA:Baznas Buka Beasiswa S1 dan S2 di Timur Tengah, Ini Syarat dan Fasilitasnya
“Kita tidak ingin potensi kelapa sawit dan karet hanya berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi harus mampu membuka peluang usaha, memperkuat peran koperasi, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Kutai Timur,” ujar Ardiansyah usai meresmikan SUSTAIN Kutim Fase II di Hotel Royal Victoria Sangatta, Kamis 29 Oktober 2026.
Ia menilai, keberhasilan pembangunan perkebunan berkelanjutan harus diukur melalui perubahan nyata yang dirasakan petani.
Terutama peningkatan pendapatan, kemampuan mengelola kebun, serta kesempatan menjangkau pasar yang lebih kompetitif.
Salah satu langkah yang telah dilakukan melalui program tersebut adalah pendampingan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), terhadap sembilan koperasi pekebun swadaya di Kecamatan Bengalon dan Rantau Pulung.
BACA JUGA:Kutim Kejar Kekurangan DBH Rp1,2 Triliun, Sekda Siapkan Komunikasi dengan Kemenkeu
Sebanyak lebih dari 1.200 pekebun yang tergabung dalam koperasi tersebut telah memperoleh pengakuan melalui sertifikasi keberlanjutan.
Namun, Ardiansyah mengingatkan bahwa pencapaian itu harus diikuti pendampingan secara konsisten.
“Petani swadaya tidak hanya dituntut memenuhi standar keberlanjutan, tetapi juga harus memperoleh dukungan agar mampu menjalankannya secara konsisten dan tetap mendapatkan manfaat ekonomi yang layak,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
