Sulit Cari BBM Subsidi, Warga Tanjung Berukang Berharap SPBN Segera Dibangun
Warga di Desa Persiapan Tanjung Berukang mayoritas beraktivitas sebagai nelayan. Untuk melaut itu, kebutuhan utamanya ada pasokan BBM dengan harga subsidi. --ilustrasi--ist.
KUKAR, NOMORSATUKALTIM – Ketersediaan BBM bersubsidi sangat penting bagi warga di Desa Persiapan Tanjung Berukang, Kecamatan Anggana, Kukar, yang bermatapencaharian sebagai nelayan.
Mayoritas dari mereka menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan dan harus mengeluarkan biaya besar untuk operasional melaut.
Karena itu, Pemerintah Desa Persiapan Tanjung Berukang berharap dan mendukung rencana pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) untuk membantu masyarakat pesisir mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) dengan harga yang lebih terjangkau.
Sekretaris Desa Tanjung Berukang, Suardi, mengatakan kebutuhan BBM menjadi salah satu persoalan yang dihadapi nelayan di kawasan pesisir Delta Mahakam.
Baca Juga: MTQ Kaltim 2026 Bakal Dihadiri 1.200 Orang, Pemkab Kukar Siapkan Arena dan Penginapan Kafilah
Selama ini, masyarakat setempat belum mendapatkan subsidi BBM untuk menunjang aktivitas mereka, sehingga harus membeli bahan bakar dengan harga yang relatif tinggi.
Ia berharap pemerintah, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat, memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut.

Menurutnya, akses terhadap BBM bersubsidi dapat membantu meringankan beban nelayan yang setiap hari membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas mencari ikan.
“Kami sebagai perwakilan masyarakat di Desa Tanjung Berukang memohon kepada pihak yang berwenang, baik dari pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan pusat, kalau bisa kami mendapatkan subsidi BBM Pertalite dan Solar,” katanya, Selasa 27 Oktober 2026.
Baca Juga: Proses Pemekaran Desa di Kukar Ditarget Selesai Akhir Tahun 2026
Ia mengungkapkan, harga BBM di wilayahnya dapat mencapai Rp18.000 per liter untuk solar, sedangkan bensin berkisar Rp15.000 hingga Rp17.000 per liter.
Harga tersebut menjadi beban tersendiri bagi masyarakat, terutama nelayan yang membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar untuk melaut.
Kondisi geografis Tanjung Berukang yang berada di kawasan pesisir membuat transportasi air menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Nelayan mengandalkan kapal, speedboat, maupun perahu bermesin atau ces untuk menjalankan aktivitas ekonomi dan mobilitas mereka.
Penggunaan sarana transportasi tersebut membutuhkan BBM secara rutin. Karena itu, tingginya harga bahan bakar berdampak langsung terhadap biaya operasional yang harus ditanggung masyarakat.
Suardi menilai kebutuhan BBM nelayan berbeda dengan kebutuhan pengguna kendaraan bermotor di darat.
Konsumsi bahan bakar untuk perjalanan menggunakan kapal sangat bergantung pada jarak tempuh dan kondisi perjalanan, sementara setiap aktivitas melaut membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.
Baca Juga: Gedung Diklat BKPSDM Kukar Tak Langsung Jadi Kantor, Bupati Pertimbangkan Jarak ASN
“Kita ini mayoritas nelayan, otomatis kita bergerak menggunakan kapal, speedboat, atau ces. Itu kan membutuhkan bahan bakar, pasti lewat situ, dan jumlah yang dibutuhkan juga sangat banyak. Beda kalau kendaraan motor, satu liter bisa sampai 10 kilometer. Kalau kita, satu liter itu bisa hanya satu kilometer saja,” ungkap Suardi.
Atas kondisi tersebut, pemerintah desa berharap rencana pembangunan SPBN dapat menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki akses nelayan terhadap BBM.
Selain ketersediaan fasilitas pengisian, masyarakat juga berharap ada kebijakan yang memungkinkan mereka memperoleh bahan bakar bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi masyarakat Tanjung Berukang, persoalan BBM bukan sekadar kebutuhan transportasi, melainkan berkaitan erat dengan keberlangsungan mata pencaharian.
Ketersediaan bahan bakar dengan harga yang lebih terjangkau diharapkan dapat membantu menekan biaya melaut dan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat pesisir.
Suardi berharap aspirasi tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait agar kebutuhan nelayan di wilayahnya tidak terus terbebani oleh tingginya harga BBM.
“Itu yang menjadi kendala kita. Mudah-mudahan ke depannya ada perhatian khusus dari pihak-pihak yang berwenang,” pungkasnya. (adv)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
