ISPA Samarinda Tembus 12.819 Kasus, Kelompok Rentan Diminta Waspada
Pelayanan kesehatan terhadap lansia di fasilitas kesehatan masyarakat di kawasan Segiri, Kota Samarinda.-(Disway Kaltim/ Mayang Sari)-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Samarinda mencapai 12.819 kasus sepanjang September 2026.
Meski angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda menyatakan belum menemukan lonjakan signifikan pasien ISPA yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih mengatakan, perkembangan kasus masih dalam pemantauan melalui laporan fasilitas pelayanan kesehatan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah kondisi pasien, terutama mereka yang mengalami gangguan pernapasan berat dan membutuhkan penanganan lanjutan.
BACA JUGA: Kemenkes Ingatkan Dampak Kemarau, Kasus ISPA 2026 Capai 15,6 Juta Jiwa
“Kalau dilihat dari jumlah kasus, memang ada peningkatan. Tetapi kami juga melihat bagaimana kondisi pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Sejauh ini, laporan yang kami terima belum menunjukkan kenaikan signifikan pada kasus ISPA berat,” ungkap dr Ismed, Senin, 12 Oktober 2026.
Berdasarkan rekapitulasi surveilans Dinkes Samarinda, kasus ISPA pada Juli 2026 tercatat sebanyak 8.610 kasus. Angka itu naik menjadi 10.681 kasus pada Agustus, kemudian mencapai 12.819 kasus pada September.
Dengan demikian, terdapat tambahan 2.138 kasus dari Agustus ke September. Sementara itu, pada 1–8 Oktober 2026, Dinkes mencatat 3.092 kasus ISPA. Data Oktober tersebut baru mencakup delapan hari pertama sehingga belum menggambarkan jumlah kasus selama satu bulan penuh.
Ismed menyebutkan, kenaikan kasus secara keseluruhan belum menjadi alasan untuk menganggap kondisi kesehatan masyarakat berada dalam situasi darurat. Namun, pemantauan tetap dilakukan agar perubahan pola kasus dapat diketahui dan penanganan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
BACA JUGA: Kemarau dan Karhutla Picu Kenaikan ISPA di Kaltim, Hingga Agustus 2026 Tembus 9.400 Kasus
“Kami tidak hanya berpatokan pada angka kenaikan. Perkembangan kasus harus dilihat bersama kondisi pasien dan laporan dari fasilitas kesehatan. Dengan begitu, kami bisa mengetahui apakah ada perubahan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
Untuk memastikan pasien memperoleh pelayanan sesuai kondisinya, Dinkes menghubungkan laporan dari puskesmas, klinik, hingga rumah sakit. Koordinasi tersebut juga mencakup pemantauan ketersediaan obat-obatan yang diperlukan dalam pelayanan ISPA.
Ismed mengatakan, laporan dari RSUD Inche Abdoel Moeis belum memperlihatkan peningkatan signifikan pasien ISPA yang dirawat. Dinkes juga menghubungkan pemantauan dengan 14 rumah sakit lainnya untuk mendapatkan gambaran perkembangan kasus dari fasilitas pelayanan rujukan.
“Dari data RSUD Inche Abdoel Moeis, kasus ISPA yang dirawat belum menunjukkan peningkatan signifikan. Kami juga berkoordinasi dengan 14 rumah sakit lainnya untuk memantau perkembangannya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
