Belajar Kaharingan setelah Lewati Perbatasan Kaltim-Kalteng
Tempat majelis kelompok Kaharingan di Desa Tambaba, Kalimantan Tengah.-Bayong-
Oleh: Baharunsyah
SAYA cukup asing dengan nama ini. Kaharingan. Bukan agama resmi yang diakui negara, tapi konon umurnya sama tuanya dengan peradaban di Kalimantan
TAPI sebelum cerita tentang itu, saya mau bilang. Sopir andalan kami, Crisantus Lung dari PEKA Borneo terpaksa menepi karena sakit gerd parah. Dia harus istirahat total. Alhasil, saya menjadi sopir dadakan selama perjalanan di Kubar karena tak ada yang bisa mengendarai mobil. wkwkwkwk.
Ketika hari terakhir di Desa Randa Empas, kami menyempatkan menuju tugu perbatasan Kaltim-Kalteng.
Satu jam perjalanan menuju ke sana. Selesai melihat-lihat, kami memberanikan diri melintasi provinsi sebelah. Karena logistik kami mulai terbatas.
Salah satu warlok (warga lokal) menyarankan kami ke Desa Lampiyong di Kalteng. Karena di sana lebih ramai penduduk dan jaraknya dengan Randa Empas 'lebih dekat'. Cuma sekitar 2 jam.
Menyetirlah saya ke sana dengan rombongan. Kami melewati desa Tambaba dulu baru tiba di Desa Lampiyong. Puas berbelanja kami putuskan untuk kembali.
Ketika kami melintasi jalur Desa Tambaba, Andri, salah satu rekan dari PEKA Borneo meminta mobil Triton menepi.
Tepat di seberang bangunan tua didominasi kayu. Atapnya masih berbentuk jerami, dan dindingnya semua bercat biru lapuk. Di depannya ada papan plang bertuliskan, Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan.
Rupanya itu yang menyihir matanya. Kami singgah ke sana yang mungkin rumah ibadah kalangan Kaharingan. Buat yang belum tahu, Kaharingan adalah kepercayaan kuno masyarakat asli Dayak di Kalimantan. Majelis ini ibarat kelompok pengajian dalam Islam.
Ada pemuka agama sendiri yang bertanggungjawab di majelis ini. Sayangnya, juru kunci majelis ini sedang berladang dan baru akan tiba pada Kamis. Saat itu, kami datang hari Minggu sore jelang magrib.
Karena bagi pemeluk Kaharingan, Kamis merupakan hari sakral untuk beribadah. Sama sakralnya Minggu oleh Nasrani, dan Jumat bagi pemeluk Islam.
Di sana cuma ada anak sang juru kunci. Kita panggil saja Ariandi, karena ia tidak mau namanya disebutkan. Menurut kepercayaan Kaharingan, mereka menyembah satu Tuhan yang disebut Ranying Hattala Langit.
Lalu dalam kepercayaan itu terdapat istilah Sangiang dan Hudi. Sangiang itu adalah personfikasi roh para leluhur yang berada di alam gaib.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

