5 Daerah Rawan Asap Jadi Prioritas Distribusi Masker Dinkes Kaltim
Penanganan karhutla di Kaltim terus dilakukan di tengah ancaman paparan asap terhadap masyarakat, terutama kelompok rentan.-Dok/BPBD Kaltim-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM- Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) menyiapkan logistik medis, untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama jika kabut asap mulai memengaruhi permukiman warga.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin mengatakan, stok logistik medis telah diamankan sebagai bagian dari langkah mitigasi.
Kesiapan tersebut diperlukan untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan ketika terjadi peningkatan paparan asap.
"Kami telah mengamankan seluruh stok logistik medis sebagai langkah mitigasi demi melindungi kesehatan warga yang rentan," ujar Jaya, Sabtu, 22 Agustus 2026.
BACA JUGA: Dinkes Paser Catat 900 Kasus ISPA hingga Juli, Warga Diminta Waspada Dampak Karhutla
Salah satu logistik yang diprioritaskan ialah masker untuk melindungi masyarakat dari paparan polusi udara.
Dinkes Kaltim menyiapkan, distribusi puluhan ribu boks masker dewasa ke sejumlah daerah yang dipetakan memiliki risiko paparan asap lebih tinggi.
Lima daerah menjadi sasaran penyaluran, yakni Kutai Kartanegara, Berau, Kutai Barat, Penajam Paser Utara, dan Paser.
Menurut Jaya, distribusi tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas kesehatan, tetapi juga mendukung perlindungan kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap gangguan akibat kualitas udara buruk. Kelompok tersebut antara lain balita, ibu hamil, dan lanjut usia.
BACA JUGA: Dinkes Mahulu Imbau Masyarakat Waspada Penyakit ISPA dan Diare Selama Kemarau
"Kami lakukan langkah terpadu agar dampak paparan asap, termasuk peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut, dapat ditekan sejak awal," katanya.
Selain logistik, Dinkes Kaltim memperkuat pemantauan kondisi kesehatan masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan dari tingkat dasar hingga rujukan, dipetakan untuk memastikan kesiapan layanan apabila terjadi peningkatan pasien akibat paparan asap.
Pelaporan kondisi di lapangan juga menjadi bagian dari sistem kewaspadaan. Informasi mengenai kejadian paparan asap maupun peningkatan jumlah pasien, diminta masuk ke sistem informasi pelaporan krisis kesehatan harian dalam waktu kurang dari 24 jam.
Jaya mengatakan, kecepatan laporan menjadi penting karena data tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan langkah penanganan di daerah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
