Bankaltimtara

Hangzhou (1): Kota yang Membuat Masa Depan Terasa Biasa

Hangzhou (1): Kota yang Membuat Masa Depan Terasa Biasa

Penulis ketika berada di Zhejiang University.--ist--nomorsatukaltim-

Kota selalu punya cara untuk memperkenalkan dirinya.

Oleh: Rina Juwita 
Dosen FISIP UNMUL

ADA yang menyambut dengan gedung-gedung tinggi, ada yang memamerkan monumen bersejarah, ada pula yang sibuk menunjukkan kemajuan lewat layar-layar digital di setiap sudut jalan. Hangzhou, Cina, memilih cara yang berbeda. Kota ini tidak banyak berbicara tentang dirinya. Ia membiarkan para tamunya menemukan cerita itu sendiri, perlahan, melalui hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian.

Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang, selama dua dekade terakhir berubah luar biasa. Dahulu kota ini dikenal sebagai kota wisata dengan Danau Barat (West Lake) yang memesona. Kini, Hangzhou telah menjelma menjadi salah satu pusat ekonomi digital paling penting di Tiongkok, rumah bagi Alibaba, DeepSeek, NetEase, serta ratusan perusahaan teknologi lainnya. 

Transformasi itu bukan hanya tampak dari gedung-gedung tinggi, tetapi dari bagaimana teknologi benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Saya datang ke Hangzhou sebagai bagian rangakaian Program Global Symposium on University Governance for Academic Leaders yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia bekerja sama dengan Zhejiang University

Agenda utamanya tentu berdiskusi tentang tata kelola perguruan tinggi bersama akademisi dari berbagai universitas di Indonesia dan Tiongkok. Namun, seperti banyak perjalanan lainnya, pelajaran paling berharga justru sering datang bukan dari ruang konferensi, melainkan dari perjalanan menuju ke sana.

Pesawat mendarat sekitar pukul 10 pagi waktu setempat. Hal pertama yang kami semua lakukan setelah keluar dari kabin justru bukan mengambil koper, melainkan mengaktifkan e-SIM khusus China Mainland. 

Bagi wisatawan yang pertama kali datang ke Tiongkok, internet bukan sekadar kebutuhan komunikasi, tetapi pintu masuk menuju hampir seluruh aktivitas sehari-hari. Setelah koneksi berhasil aktif, barulah perjalanan benar-benar dimulai.

Begitu keluar dari bandara, suhu udara menyentuh hampir 38 derajat Celsius. Matahari sedang garang-garangnya. Tetapi yang pertama kali menarik perhatian saya bukan cuacanya. Melainkan jalanannya.

Baca Juga: Pemlih Cerdas di Era Demokrasi Digital

Bus melintas dengan tenang. Sepeda listrik bergerak pelan di jalurnya sendiri. Mobil berbahan bakar bensin memang masih ada, tetapi tidak mendominasi ruang jalan. Di beberapa persimpangan, tersedia kanopi sederhana untuk melindungi pengendara sepeda dan motor listrik saat menunggu lampu hijau. Terbuat dari besi baja biasa. Tidak futuristis. Tetapi terasa seperti sebuah kota yang benar-benar memikirkan penggunanya.

Di banyak persimpangan, kendaraan bermotor benar-benar berhenti memberi kesempatan orang berjalan menyeberang. Jalur sepeda pun begitu luas dan terintegrasi dengan jaringan transportasi kota. Di tengah gencarnya pembangunan ekonomi, ruang hijau tetap dipertahankan. Pepohonan rindang, taman kota, dan ruang publik hadir hampir di setiap kawasan yang kami lewati.

Di Indonesia, pembangunan sering dipahami sebagai semakin banyak jalan raya dan semakin padat kendaraan. Hangzhou menawarkan definisi berbeda. Pembangunan adalah membuat kota semakin nyaman dihuni manusia.

Sebagai orang komunikasi, saya percaya bahwa kota sebenarnya juga sedang “berkomunikasi”. Bukan melalui baliho atau slogan, melainkan melalui desain ruangnya. Cara sebuah kota mengatur trotoar, menyediakan ruang hijau, mengelola transportasi, hingga menentukan siapa yang didahulukan di persimpangan jalan adalah pesan yang terus-menerus dikirim kepada warganya. Pesan itu bermakna sederhana: siapa yang paling dihargai.

Di Hangzhou, saya merasa jawabannya cukup jelas. Pejalan kaki mendapat prioritas. Pesepeda dihormati. Kendaraan listrik diberi ruang. Kota ini seperti sedang mengatakan bahwa pembangunan tidak selalu berarti memberi jalan lebih banyak kepada mobil. Mungkin karena itulah suasana kotanya terasa tenang.

Bukan berarti aktivitasnya sedikit. Justru sebaliknya. Kota ini dihuni lebih dari 12 juta penduduk tetap dan menjadi salah satu pusat ekonomi digital Tiongkok. Markas Alibaba berada di sini. Perusahaan kecerdasan buatan seperti DeepSeek juga berkembang di wilayah ini. Namun, kemajuan itu tidak hadir dalam bentuk yang riuh. Ia bekerja dalam diam, menjadi bagian dari rutinitas masyarakat.

Perasaan yang sama kembali saya temukan saat makan siang pertama.

Restoran yang kami datangi menyajikan berbagai hidangan khas Zhejiang. Rasanya ringan, nyaris tanpa ledakan bumbu seperti yang biasa kita temui di Indonesia. Awalnya saya berpikir lidah saya sedang “beradaptasi”. Tetapi setelah beberapa kali makan di tempat berbeda, saya mulai menyadari bahwa ini memang bagian dari budaya mereka.

Mereka tampaknya tidak berusaha mengubah karakter bahan makanan. Sayur tetap terasa seperti sayur. Ayam tetap terasa seperti ayam. Teh tetap terasa seperti daun teh. Kesederhanaan bukan berarti kurang rasa, melainkan memberi ruang agar rasa aslinya tetap berbicara.

Saya jadi teringat salah satu prinsip dasar komunikasi: pesan yang baik tidak selalu pesan yang paling keras, tetapi yang paling jujur. Barangkali filosofi itu juga hidup dalam budaya kuliner mereka. Tidak banyak yang ditambahkan, tidak banyak yang ditutupi.

Keesokan paginya, pelajaran kecil itu berlanjut di meja sarapan hotel. Peralatan makan disimpan dalam lemari sterilisasi. Buah segar selalu tersedia. Ada satu menu yang membuat saya penasaran: asinan bawang putih. 

Baca Juga: Tak Ada Jabatan yang Lebih Tinggi dari Seorang Ibu: Membaca Narasi Rita Widyasari di Media Sosial

Rasanya segar, sedikit asam dan manis. Kalau tidak diberi tahu, mungkin saya tidak akan percaya bahwa itu bawang putih. Lagi-lagi, semuanya disajikan dengan sederhana, tanpa berlebihan.

Hari kedua membawa kami ke perkebunan teh di pinggiran Hangzhou. Di sinilah saya mulai memahami mengapa kota ini sering dijuluki sebagai ibu kota teh. Hamparan kebun hijau membentang mengikuti kontur perbukitan. 

Wilayah Zhejiang memang dikenal sebagai penghasil Longjing Tea, salah satu teh hijau paling terkenal di dunia. Wisatawan datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi menyaksikan bagaimana teh dipetik, diolah, diseduh, hingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Yang menarik bagi saya justru bukan tehnya. Melainkan cara mereka mengemas cerita.

Dalam kajian komunikasi, kita mengenal konsep storytelling. Orang lebih mudah mengingat cerita daripada data. Hangzhou tampaknya memahami prinsip itu. Yang dijual bukan sekadar daun teh. Yang dibangun adalah narasi tentang tradisi, kesehatan, lanskap, hingga identitas budaya. Produk akhirnya memang teh, tetapi yang dibawa pulang wisatawan adalah pengalaman.

Saya membayangkan, bukankah banyak daerah di Indonesia juga memiliki potensi serupa? Kopi, rempah, tenun, atau hasil hutan bukan hanya komoditas ekonomi. Dengan komunikasi yang tepat, semuanya dapat menjadi cerita yang memberi nilai tambah bagi masyarakat lokal. (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: