Bankaltimtara

Mahyunadi Ungkap Kendala Besar Pembangunan Breeding Farm Sapi di Kutim

Mahyunadi Ungkap Kendala Besar Pembangunan Breeding Farm Sapi di Kutim

Rencana pembiakkan sapi di di Rantau Pulung masih manuai kendala.-istimewa-

KUTIM, NOMORSATUKALTIM – Rencana Pemkab Kutim  membangun pusat pembiakan sapi atau breeding farm di Kecamatan Rantau Pulung masih terganjal. 

Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi mengungkapkan, program tersebut sebenarnya menjadi salah satu upaya daerah dalam memperkuat sektor peternakan, sekaligus memenuhi kebutuhan bibit sapi secara mandiri di masa mendatang.

Gagasan tersebut muncul setelah jajaran Pemkab Kutim melakukan kunjungan dan mempelajari pengelolaan peternakan sapi di Malang, Jawa Timur, pada pertengahan tahun lalu. 

Dari hasil studi tersebut, pemerintah melihat peluang pengembangan sapi Brahman Cross (BX) yang dinilai cocok untuk dikembangkan di Kutai Timur.

Menurut Mahyunadi, pemerintah daerah telah melakukan pemetaan terhadap lahan yang berpotensi digunakan untuk mendukung program tersebut.

BACA JUGA:Pemuda Kutim Wakili Kaltim-Kaltara di Ajang Nasional, Usung Inovasi Literasi Keuangan Berbasis QR

“Karena itu kami berpikir bagaimana kalau membuat breeding farm sendiri untuk sapi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lahan seluas kurang lebih 6 hektare di kawasan Rantau Pulung telah diidentifikasi dan dinilai cukup layak untuk menjadi lokasi pengembangan peternakan pembiakan sapi.

Meski demikian, realisasi program tersebut belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Selain mempertimbangkan kondisi keuangan daerah, pemerintah juga masih menghadapi keterbatasan tenaga ahli yang memiliki kompetensi khusus dalam bidang pembiakan ternak.

Ketersediaan sumber daya manusia menjadi perhatian utama karena pengelolaan breeding farm membutuhkan keahlian teknis yang tidak dapat dipersiapkan secara instan.

BACA JUGA:Soroti Fatality di Lokasi Tambang, Yusuf Silambi Sebut Perusahaan juga Perlu Berelaborasi dengan Alam

Untuk itu, Pemkab Kutim berupaya mencari lembaga atau pusat pembiakan sapi yang bersedia menjadi tempat pembelajaran bagi tenaga yang nantinya akan disiapkan sebagai pengelola breeding farm.

“Kami coba cari breeding farm yang bisa melakukan pendidikan untuk SDM di Kutim. Nanti kami berangkatkan untuk belajar di sana,” kata Mahyunadi.

Namun upaya tersebut belum berjalan sesuai harapan. Hingga kini pemerintah daerah masih kesulitan menemukan pengelola breeding farm yang bersedia menerima kunjungan dan program pelatihan secara resmi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: