BPBD Samarinda Prediksi Dua Jenis Bencana Ini Akan Menyerang Sekaligus
Salah satu titik banjir di Samarinda.-Dok/Disway Kaltim-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda bersiapsiaga hadapi dua potensi bencana sekaligus.
Yakni potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat cuaca panas, serta risiko banjir dan genangan dari hujan ekstrem yang masih terjadi pada masa peralihan musim.
“Menurut prediksi BMKG sebetulnya kemarau ini akan mencapai puncaknya di bulan Agustus. Sudah dimulai dari bulan Maret kemarin,” ujar Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, saat memberikan keterangan kepada awak media, Kamis 14 Mei 2026.
Suwarso menjelaskan, kondisi geografis Samarinda yang berada di kawasan garis khatulistiwa menjadi salah satu alasan hujan masih berpotensi turun.
BACA JUGA:Andi Harun Ingin Festival Budaya Samarinda Diatur oleh Perda
Meski wilayah ini secara meteorologis telah memasuki musim kemarau.
“Walaupun sudah dinyatakan akan terjadi kemarau panjang atau El Nino, Samarinda ini masih berada di garis khatulistiwa sehingga memang masih akan terjadi hujan walaupun di dalam masa kemarau,” katanya.
Ia menuturkan BPBD kini harus menyiapkan langkah antisipasi yang lebih kompleks karena dua potensi bencana dapat muncul dalam waktu berdekatan.
Di satu sisi, cuaca panas berisiko memicu munculnya titik api dan kebakaran lahan.
Di sisi lain, hujan deras masih dapat memunculkan genangan dalam waktu singkat.
“Kita juga sudah mempersiapkan segala peralatan, personel, dan membangun kolaborasi dengan beberapa perangkat daerah termasuk Damkar, relawan, dan kampung tangguh bencana,” jelasnya.
BACA JUGA:Gebyar Civic Education XV Unmul Sukses Digelar, Cetak Talenta Muda Berprestasi
Menurut Suwarso, koordinasi tersebut dilakukan agar penanganan awal bisa berlangsung cepat ketika ditemukan titik api kecil, sehingga kebakaran tidak sempat meluas dan memicu kerugian lebih besar.
Selain kesiapsiagaan lapangan, BPBD juga terus memantau potensi kebakaran melalui aplikasi pemantauan titik panas, termasuk SiPongi milik Kementerian Kehutanan, guna mendeteksi risiko kebakaran lebih dini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: