Bankaltimtara

Rupiah Melemah Sentuh Rp17.105, Beban Subsidi dan Klaim Asuransi Kian Berat

Rupiah Melemah Sentuh Rp17.105, Beban Subsidi dan Klaim Asuransi Kian Berat

Tembusnya nilai tukar Rupiah ke level Rp17.105 per Dolar AS hingga menimbulkan kekhawatiran pada pasar keuangan Indonesia.----tangkapan layar

JAKARTA, NOMORSATUKALTIM - Tembusnya nilai tukar Rupiah ke level Rp17.105 per Dolar AS hingga menimbulkan kekhawatiran pada pasar keuangan Indonesia. Pasalnya, kurs yang melemah tajam selalu membawa pesan bahwa stabilitas sedang diuji. 

Tidak hanya itu, beberapa subsidi seperti listrik, LPG, dan BBM juga terancam menjadi lebih berat ditanggung negara, karena sebagian komponen biaya sangat sensitif terhadap kurs dolar.  

Menurut Ekonom dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, situasi ini mau tidak mau juga akan mendorong pemerintah harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk barang dan kebutuhan yang sama. 

"Kurs bukan hanya angka di layar. Ia adalah termometer yang menunjukkan suhu perekonomian, apakah pasar sedang cemas, apakah kebijakan cukup kredibel, dan apakah fondasi ekonomi cukup kuat menghadapi tekanan global. Pelemahan rupiah biasanya mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan domestik," tutur Achmad ketika dihubungi oleh Disway, pada Kamis, 9 April 2026.

Baca Juga: Harga Plastik di Tenggarong Melonjak hingga 40 Persen, Pedagang Keluhkan Meningkatnya Biaya Operasional

Lebih lanjut, Achmad juga turut menambahkan bahwa dari dalam negeri sendiri, pasar juga membaca disiplin fiskal, ketahanan sektor eksternal, dan kredibilitas kebijakan ekonomi.  

Dalam hal ini, walaupun struktur utang Indonesia relatif lebih hati-hati dan didominasi tenor jangka panjang, pelemahan rupiah tetap membuat pembayaran kewajiban berdenominasi dolar terasa lebih mahal dalam rupiah.  

"Ini berarti ruang fiskal bisa makin sempit, apalagi jika di saat yang sama pemerintah juga harus menjaga belanja prioritas, perlindungan sosial, dan program pembangunan," pungkas Achmad.  

"Ketika kurs naik, biaya produksi ikut terdorong naik. Dari sini, tekanan menjalar ke harga barang, transportasi, distribusi, dan akhirnya ke pengeluaran rumah tangga. Ini sebabnya pelemahan rupiah bukan sekadar isu pasar uang, melainkan juga risiko sosial," tambahnya. 

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali buka suara dalam menanggapi pelemahan masif nilai tukar rupiah terhadap USD tersebut. 

Baca Juga: Dari Dapur Sederhana, Perempuan Tangguh Ini Sukses Kembangkan Usaha Kue Berkat Dukungan BRI

Dalam pernyataannya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui bahwa dampak eskalasi konflik di Timur Tengah memang menjadi salah satu alasan utama dibalik pelemahan tersebut. Kendati begitu, dirinya juga menambahkan bahwa dampak konflik tersebut juga bersifat dua arah. 

"Di mana kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara ekspotir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut," jelas Destry dalam pesan singkat yang diberikan kepada Disway.

INDUSTRI ASURANSI

Menyusul kabar pelemahan nilai tukar Rupiah, yang sebelumnya kembali anjlok hingga menyentuh angka Rp 17.105, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut menyoroti dampak pelemahan tersebut kepada sektor industri asuransi. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: disway.id