Bankaltimtara

Pekerja Tambang di Bontang Resah, Tanggapi Isu Bakal Ada PHK Massal

Pekerja Tambang di Bontang Resah, Tanggapi Isu Bakal Ada PHK Massal

Ilustrasi pekerja sektor pertambangan.-Shutterstock-

BONTANG, NOMORSATUKALTIM - Pekerja di sektor pertambangan batu bara mulai panik. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) terus mencuat. Kondisi ini pun buat para pekerja gelisah dalam menjalankan pekerjaan.

Misalnya saja Edwin, warga Kelurahan Kanaan. Ia menjadi salah satu orang merasakan kecemasan itu. Ia mengaku sudah mendengar isu rencana PHK tersebut sekitar sebulan lalu, meski hanya beredar dari mulut ke mulut.

Informasi yang beredar bahkan menyebut jumlah pekerja terdampak bisa mencapai ratusan orang. “Memang kabar yang saya dengar seperti itu. Tapi sejauh ini masih sebatas informasi yang belum jelas. Belum ada PHK yang benar-benar terjadi,” katanya, Rabu, 8 April 2026.

Keresahan serupa juga dirasakan Kiki, pekerja tambang lainnya. Ia menerima kabar bahwa pengurangan tenaga kerja di salah satu perusahaan bahkan bisa mencapai setengah dari total karyawan.

BACA JUGA: Ancaman PHK Akibat Pemangkasan Produksi Batu Bara, Disnakertrans Berau Minta Tenaga Kerja Lokal Dipertahankan

“Informasinya bisa sampai 50 persen. Itu yang bikin teman-teman mulai khawatir,” katanya. Isu PHK ini mencuat dikarenakan adanya pemangkasan produksi batu bara yang berimbas kepada tenaga kerja.

Tak hanya soal PHK, muncul pula skenario lain yang disebut-sebut menjadi opsi perusahaan, yakni mutasi ke wilayah tambang berbeda.

Namun, pilihan ini bukan tanpa konsekuensi. “Kalau mau tetap kerja, harus siap dipindahkan. Kalau tidak bersedia, ya pilihannya resign,” ungkapnya.

Situasi ini menggambarkan posisi pekerja yang serba dilematis. Di satu sisi ingin mempertahankan pekerjaan, di sisi lain harus menghadapi kemungkinan berpindah lokasi atau kehilangan penghasilan.

BACA JUGA: Antisipasi Rencana PHK Sektor Tambang, Bupati Kukar Sudah Siapkan Langkah Mitigasi

Sementara, Ketua Serikat Buruh Se-Indonesia Independen ’92 (SBSI ’92), Herman Tomi mengaku telah menerima informasi serupa dari jaringan serikat pekerja di tingkat pusat.

 

Rencana pengurangan tenaga kerja bukan hanya persoalan internal perusahaan, tetapi juga berpotensi memicu dampak sosial yang lebih luas.

“Kalau benar terjadi, ini bukan sekadar angka PHK. Dampaknya bisa ke mana-mana. Mulai dari meningkatnya pengangguran hingga tekanan ekonomi keluarga pekerja,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: