Bankaltimtara

Jamaah Tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah Sudah Rayakan Idul Fitri, Gunakan Hisab Metode Apa?

Jamaah Tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah Sudah Rayakan Idul Fitri, Gunakan Hisab Metode Apa?

Jamaah Tarekat Syattariyah sudah merayakan Idul Fitri 1447 Hijriyah yang ditandai dengan pelaksanaan Shalat Ied di Masjid Peuleukung, Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, Kamis (19/2/2026) pagi.-(Foto/ Antara)-

JAKARTA, NOMORSATUKALTIM – Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah di Indonesia kembali diwarnai perbedaan penetapan hari raya. 

Sejumlah jamaah dari Tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah diketahui telah lebih dahulu merayakan Idulfitri, pada Kamis, 19 Maret 2026.

Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, ribuan pengikut Tarekat Syattariyah melaksanakan Salat Id di Masjid Peuleukung, Kecamatan Seunagan Timur. 

Perayaan ini dilakukan setelah mereka menyelesaikan puasa Ramadan selama 30 hari penuh.

BACA JUGA: Pemkab Kutim Gelar Takbir Keliling Idulfitri 1447 H, Knalpot Brong dan Petasan Dilarang

BACA JUGA: Muhammadiyah Sudah Menetapkan Lebaran Idulfitri 2026, Pemerintah Menunggu Sidang Isbat

Penetapan 1 Syawal oleh jamaah Syattariyah didasarkan pada metode hisab tradisional yang telah digunakan secara turun-temurun.

Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan, menjelaskan bahwa metode yang digunakan adalah Hisab Bilangan Lima.

"Metode ini sudah digunakan secara turun-temurun di Nagan Raya selama lebih dari 200 tahun," ujarnya, dikutip dari Antara.

Menurutnya, perbedaan penentuan hari raya bukan hal baru di tengah masyarakat. Ia menilai perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari dinamika praktik keagamaan di Indonesia.

BACA JUGA: 5 Hal Penting yang Perlu Diketahui Pemudik lewat Tol Balikpapan-IKN Jelang Idulfitri 2026

BACA JUGA: Pemkab PPU Larang Keras ASN Mudik Pakai Mobil Dinas

"Di Nagan Raya ini sudah biasa, tidak ada masalah karena sudah berlangsung ratusan tahun. Ada yang menggunakan metode rukyah, ada yang hisab. Bahkan di tingkat nasional pun perbedaan sering terjadi," katanya menambahkan.

Ia juga menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan ulama terdahulu yang terus dijaga hingga kini oleh para pengikut tarekat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: