Bankaltimtara

Gagal Dapat Adipura, Anggota DPRD Soroti Pola Bersih Musiman

Gagal Dapat Adipura, Anggota DPRD Soroti Pola Bersih Musiman

Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Syarifudin Oddang-Salsabila-

BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Gagalnya Kota Balikpapan meraih penghargaan Adipura 2025 membuka kembali persoalan mendasar dalam pengelolaan kebersihan perkotaan, yakni kesiapan yang kerap bersifat temporer.

Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Syarifudin Oddang, menilai kegagalan kali ini harus dibaca sebagai peringatan agar kebersihan kota tidak lagi dijalankan secara reaktif.

"Masalah kita bukan tidak mampu. Kita ini sudah punya sistem, fasilitas, dan pengalaman panjang. Tapi yang sering terjadi, kesiapan hanya naik drastis ketika mendekati penilaian," ujarnya, Senin (23/2/2026).

Menurut Oddang, dalam proses evaluasi terakhir tim pusat mencatat beberapa titik yang dinilai kurang terawat. Meski jumlahnya tidak banyak, kondisi tersebut cukup memengaruhi skor keseluruhan.

BACA JUGA: Salah Kelola Limbah PDAM, Kutai Barat Bisa Gagal Total di Penilaian Adipura

Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut seharusnya bisa dicegah jika pengawasan rutin berjalan konsisten sepanjang tahun.

"Titik-titik rawan itu sebenarnya sudah diketahui OPD teknis. Harusnya dibenahi dari awal sebagai rutinitas, bukan dadakan saat mau dinilai," ucapnya.

Oddang juga menolak anggapan bahwa catatan negatif mencerminkan kondisi keseluruhan kota. Tetapi di sisi lain, ia mengingatkan bahwa satu titik saja sudah cukup menggambarkan lemahnya konsistensi sistem.

"Penilaian nasional itu melihat standar. Ketika ada lokasi yang luput, itu menunjukkan pengawasan belum merata," tekannya.

BACA JUGA: Usung Konsep TPST, DLH Paser Optimis Raih Adipura Kencana

Lebih jauh, DPRD menyampaikan tantangan kebersihan Balikpapan kini semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk yang cukup pesat.

Posisi Balikpapan sebagai kota jasa dan pintu gerbang Kalimantan Timur membuat arus pendatang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kondisi tersebut membawa konsekuensi langsung terhadap volume sampah, tekanan ruang publik, serta perubahan pola hidup masyarakat.

"Banyak warga baru datang dengan kebiasaan yang berbeda. Kalau tidak dibarengi edukasi dan penegakan disiplin lingkungan, maka sistem sebaik apa pun akan kewalahan," tutur Oddang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait