Bankaltimtara

Menilik Akar Permasalahan Siswa SDN 038 Penajam Belajar di Perpustakaan Bersekat

Menilik Akar Permasalahan Siswa SDN 038 Penajam Belajar di Perpustakaan Bersekat

Suasana belajar mengajar SD Negeri 038 Penajam di ruang perpusatakaan yang disekat.-Awal/Nomorsatukaltim-

PENAJAM PASER UTARA, NOMORSATUKALTIM - Siswa kelas 2 dan 5 SD Negeri 038 Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di ruang perpustakaan yang bersekat.

Kondisi ini dipicu oleh kurangnya ruang kelas imbas gedung sekolah digunakan bersama dengan jenjang pendidikan lainnya, yakni SMP Negeri 21 dan SMA Negeri 8.

Diketahui, awalnya gedung dan fasilitas pendidikan ini mengusung konsep sekolah terpadu sejak 2008.

Kepala SDN 038 Penajam, Waluyoningsih mengatakan, sebelumnya ruangan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) kelas 2 dan 5 diperuntukkan sebagai perpustakaan sekolah terpadu, baik pelajar SD, SMP dan SMA.

BACA JUGA: Berbagi Fasilitas Gedung dengan SD dan SMPN, SMAN 8 Penajam Berharap Miliki Gedung Sendiri

Perpustakaan untuk KBM itu juga tidak langsung dipakai oleh pihak SDN 038. Sebab, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) sebelumnya juga sempat berkantor di kawasan sekolah terpadu tersebut dan menjadikan perpustakaan sebagai kantornya.

Di sisi lain, proses pembelajaran saat itu masih menerapkan masuk pagi dan siang, khususnya bagi murid kelas 1 dan 2.

"Begitu Disdikpora keluar (pindah kantor baru, akhir 2025), akhirnya perpustakaan dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar," kata Waluyoningsih, Selasa 10 Februari 2026.

Dia mengatakan, keputusan memanfaatkan ruang perpustakaan ini diambil agar siswa tidak perlu masuk siang.

BACA JUGA: Miris! Siswa SD dan SMP di PPU Belajar di Perpustakaan Bersekat, Gedung Masih Gabung dengan SMA

Menurutnya, belajar di siang hari tidak efektif karena anak-anak cenderung mengantuk dan sulit fokus.

​"Daripada anak-anak masuk siang, mereka tidak fokus dan mengantuk. Jadi saya manfaatkan perpustakaan di sebelah untuk 2 kelas. Sebelumnya ruang kelas yang kami pinjam dari SMP diminta kembali untuk digunakan mereka, mau tidak mau kelas 5 juga saya pindahkan ke sana (perpustakaan)," ujar Waluyoningsih.

Ruang perpustakaan yang digunakan terpaksa harus dibagi untuk 2 kelas dan ruang membaca. Antar ruangan hanya disekat menggunakan lemari maupun rak buku.

Kondisi ini tak ideal dan menciptakan suasana riuh serta tidak kondusif bagi konsentrasi siswa maupun pengajar yang sedang memberikan pelajaran.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: