Bankaltimtara

Banjir Susulan Rendam 18 Desa di Tabang, Akses Darat Terhambat, Pasokan Listrik Terganggu

Banjir Susulan Rendam 18 Desa di Tabang, Akses Darat Terhambat, Pasokan Listrik Terganggu

Kondisi Banjir Beberapa Desa di Kecamatan Tabang.-istimewa-

KUKAR, NOMORSATUKALTIM - Kecamatan Tabang kembali dilanda banjir susulan setelah diguyur hujan lebat.

Akibatnya, 18 desa tergenang dan aktivitas warga terganggu karena putusnya akses darat, serta pasokan listrik yang tidak stabil.

Camat Tabang Rakhmadani Hidayat menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan kelanjutan dari banjir sebelumnya pada Kamis (8/1/2026)lalu di sebagian wilayah Desa Sidomulyo.

Namun saat itu genangan masih rendah dan hanya mengenai beberapa RT saja.

Genangan yang muncul sejak awal pekan ini terus meluas dari desa ke desa.

Ketinggian air di beberapa lokasi bahkan mencapai hampir dua meter. Akibatnya, jalur transportasi, suplai bahan bakar, serta distribusi logistik untuk kebutuhan masyarakat dan layanan publik mengalami hambatan yang cukup serius.

BACA JUGA:RKPD Kukar 2027 Dimulai, Program Lama Disesuaikan dengan Kondisi Fiskal

“Banjir pada Kamis itu masih tergolong ringan karena hanya beberapa sentimeter dan belum menyebar luas, sedangkan sejak Minggu (11/1/2026) debit air melonjak tajam sehingga hampir seluruh desa di Tabang terendam,” kata Rakhmadani pada Selasa 13 Januari 2026.

Ia menyampaikan bahwa dari 19 desa yang berada di Kecamatan Tabang, hanya Desa Bila Talang yang tidak terdampak.

Karena memiliki posisi wilayah yang lebih tinggi dibandingkan desa lain yang berada di sepanjang aliran sungai.

BACA JUGA:Layanan Dokumen Adminduk di Kukar, Urus KTP dan KIA Kini Bisa di Semua Kantor Kecamatan

“Kondisi topografi Desa Bila Talang memang lebih aman, sementara desa-desa lain berada di dataran rendah sehingga langsung terdampak saat air kiriman dari hulu datang,” jelas Rakhmadani dalam pernyataan lanjutan.

Meskipun ketinggian air cukup mengkhawatirkan, pemerintah kecamatan mencatat hingga  hari ini belum ada laporan warga yang mengungsi ke pos darurat.

Dikarenakan sebagian besar masyarakat memilih bertahan di rumah masing-masing.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait