Bankaltimtara

Komunitas Stand Up Balikpapan Tanggapi Tren Komedi Kritik Pasca 'Mens Rea' Pandji

Komunitas Stand Up Balikpapan Tanggapi Tren Komedi Kritik Pasca 'Mens Rea' Pandji

Ketua Komunitas Stand Up Indo Balikpapan, Goppi Aziz.-(Ist./ Dok. Pribadi)-

BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM — Tren komedi kritik, yang dibalut dalam panggung stand up comedy di Indonesia semakin menyasar materi ke ranah sensitif. Mulai dari isu sosial hingga kritik terhadap kekuasaan. Tren ini pun ikut menggema hingga ke daerah, termasuk Balikpapan.

Ketua Komunitas Stand Up Indo Balikpapan, Goppi Aziz menilai bahwa salah satu pemicu perhatian publik datang dari pertunjukan spesial Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea yang tayang di Netflix. 

Lewat format komedi, Pandji menyelipkan kritik tajam terhadap sejumlah pejabat dan kebijakan, sekaligus memantik diskusi luas di ruang publik.

Menurut Goppi, kemunculan karya tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan sinyal perubahan arah dalam dunia stand up comedy nasional. Ia menyebut, figur seperti Pandji kerap menjadi pemantik lahirnya pola-pola baru dalam industri komedi.

BACA JUGA: Bukan Hanya Lucu, Komika Perempuan Asal Balikpapan Juga Kritis: Ardiana Kinan Contohnya

“Pandji itu selalu jadi pembuka jalan. Dari cara tour, distribusi karya, sampai keberanian arah materi. Jadi wajar kalau setelah ini muncul komika lain yang ikut menyuarakan kritik lewat gaya mereka sendiri,” kata Goppi dikonfirmasi pada Senin (10/1/2025).

Goppi mengatakan bahwa dirinya pernah terlibat langsung sebagai komika pembuka dalam pertunjukan Mens Rea di Balikpapan. Dari pengalamannya, ia melihat komedi kritik mampu menjadi medium penyampaian aspirasi, selama dibangun dengan pemahaman yang kuat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa stand up comedy tidak memiliki kewajiban untuk selalu memuat kritik politik. Menurutnya, fungsi utama komedi tetap menghadirkan tawa.

“Boleh jadi media kritik, tapi enggak wajib. Yang wajib itu lucu dulu. Kalau mau mengkritik, harus paham substansinya, sesuai fakta, dan argumennya kuat. Jangan asal ngomong,” ujarnya.

BACA JUGA: Akademisi Hukum Balikpapan: KUHP Baru Tidak Bisa Pidanakan Kritik Faktual

Di Balikpapan sendiri, ruang berekspresi bagi komika terus terbuka. Beragam tema tumbuh di panggung-panggung lokal, mulai dari pengalaman personal, relasi, tekanan kerja, hingga isu sosial dan politik. Goppi menyebut tidak ada larangan bagi komika yang ingin menyentuh materi ‘tepi jurang’.

Ia bahkan mengakui pernah menyelipkan sindiran politik dalam beberapa penampilannya. Namun, ia menekankan bahwa materi sensitif biasanya disampaikan di ruang yang lebih terkendali.

“Enggak ada batasan. Mau bahas politik silakan. Saya sendiri juga pernah. Tapi biasanya panggungnya eksklusif, tertutup, dan audiensnya sudah paham konteks,” katanya.

Menurut Goppi, pengelolaan panggung menjadi kunci penting. Ia menjelaskan bahwa materi yang dinilai sensitif umumnya tidak dilempar ke ruang publik secara mentah. Jika diunggah ke media sosial, konten tersebut sudah melalui proses kurasi atau penyuntingan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait