Siaga Karhutla Ratusan Titik Panas Masih Aktif, Pemprov Kaltim Masih Kaji Rencana Rekayasa Cuaca
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji-Mayang Sari/ Nomorsatukaltim-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM- Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menetapkan status Siaga Bencana di tengah puncak musim kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih tinggi.
Namun, di saat Pemprov menyatakan siaga, salah satu langkah yang diharapkan mampu membantu mengatasi kekeringan dan menekan risiko kebakaran, yakni Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), belum masuk tahap pelaksanaan.
OMC atau rekayasa cuaca masih menjadi opsi yang dipertimbangkan Pemprov Kaltim bersama pihak terkait. Belum ada kepastian mengenai kapan operasi tersebut bakal dilaksanakan, maupun wilayah mana yang akan menjadi sasaran.
Kondisi itu menjadi perhatian, karena data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat 594 titik panas atau hotspot terdeteksi hingga 23 Agustus 2026.
BACA JUGA: Kemarau Picu Karhutla, Kaltim Siapkan Rekayasa Cuaca di 4 Daerah Ini!
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan menyebut, dari data tersebut terdapat 5 titik di kawasan kehutanan dan 132 titik di area perkebunan.
Meski tren kebakaran disebut mulai menurun, angka hotspot tersebut menunjukkan potensi kebakaran belum sepenuhnya lepas dari ancaman.
Apalagi, Kaltim sedang berada pada periode kemarau yang membuat kondisi lahan semakin kering dan mudah terbakar.
Buyung mengatakan, penurunan tren kebakaran tidak boleh membuat pemerintah daerah menurunkan kewaspadaan.
BACA JUGA: Waspada Karhutla, Bupati Kutim Instruksikan Posko Aktif Penuh
“Trennya memang mulai sedikit menurun, tetapi kita tidak boleh lengah. Titik panas tetap kita pantau dan setiap potensi kejadian harus segera ditindaklanjuti,” kata Buyung, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurut dia, data hotspot menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan langkah penanganan di lapangan.
Karena itu, informasi dari pemantauan harus segera diterjemahkan menjadi tindakan ketika ditemukan indikasi kebakaran.
“Data ini menjadi dasar bagi kita untuk melihat wilayah mana yang perlu mendapat perhatian. Jangan sampai hotspot terdeteksi, tetapi responsnya terlambat ketika sudah berkembang menjadi kebakaran,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
