Kalimantan Jadi Pemasok 82 Persen Batu Bara Nasional, 4 Provinsi Justru Dilanda Pemadaman Bergilir
Kondisi di jalanan di ruas Batakan-Sepinggan Balikpapan gelap gulita saat pemadaman listrik.-Chandra/ Nomorsatukaltim-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM – Pemadaman listrik bergilir masih terjadi di sejumlah wilayah Balikpapan, Kalimantan Timur.
Seperti pada Selasa, 7 Juli 2026 malam, PT PLN (Persero) menghentikan sementara pasokan listrik di sejumlah kawasan Balikpapan Selatan, seperti Batakan, Sepinggan, Jalan Mulawarman, Palm Hills, hingga Gunung Bakaran, pukul 18.00 hingga 21.00 Wita, menyusul daerah lain.
Hal tersebut dilakukan akibat gangguan teknis pada komponen Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU).
Kondisi tersebut dinilai Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur sebagai gambaran paradoks tata kelola energi di Kalimantan.
BACA JUGA: PLTGU Alami Gangguan, PLN Jadwalkan Pemadaman Sementara di Sejumlah Lokasi Balikpapan
Di tengah status Kalimantan sebagai penyumbang mayoritas produksi batu bara Indonesia, masyarakat di 4 provinsi justru menghadapi krisis pasokan listrik yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September 2026.
Dinamisator Jatam Kaltim, Mustari Sihombing, menyebut kondisi yang dikenal dengan sebutan Kalimantan Gelap telah berlangsung sejak akhir Juni 2026.
Ia mengutip pernyataan General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, dalam rapat bersama DPRD Kalimantan Selatan pada 2 Juli 2026 yang memperkirakan pemadaman listrik bergilir akan berlanjut hingga akhir September.
Empat provinsi terdampak meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
BACA JUGA: Listrik Sering Padam, PLN Samarinda Buka Suara
"Kalimantan memasok sekitar 687 juta ton atau 82 persen produksi batu bara nasional pada 2024, tetapi wilayah penghasil energi justru mengalami pemadaman listrik bergilir," kata Mustari, dalam pernyataan resmi tertulis, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan ketimpangan antara peran Kalimantan sebagai penyedia energi nasional dengan kualitas layanan listrik yang diterima masyarakat di daerah penghasil sumber daya tersebut.
Kalimantan Timur tercatat menyumbang 368 juta ton batubara pada 2024, disusul Kalimantan Selatan 237 juta ton, Kalimantan Tengah 39 juta ton, Kalimantan Utara 29 juta ton, dan Kalimantan Barat 15 juta ton.
Mustari menilai persoalan tersebut semakin sulit dipahami karena data PLN tahun 2025 menunjukkan sejumlah sistem kelistrikan di Kalimantan masih memiliki cadangan daya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
