Bankaltimtara

Pegiat Lingkungan Nilai Pengerukan Sungai Tak Cukup, Pemulihan DAS Mahakam Jadi Kunci

Pegiat Lingkungan Nilai Pengerukan Sungai Tak Cukup, Pemulihan DAS Mahakam Jadi Kunci

Pegiat Lingkungan Kaltim, Misman-Mayang Sari/ Nomorsatukaltim-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM- Upaya normalisasi sungai melalui pengerukan alur, dinilai tidak akan memberikan hasil yang maksimal apabila kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam di daratan tidak dibenahi.

Pegiat lingkungan Kalimantan Timur (kaltim), Misman menilai pemulihan kawasan hulu hingga daerah resapan air harus menjadi prioritas agar penanganan persoalan lingkungan dapat berjalan secara menyeluruh.

Menurut Misman, berbagai langkah teknis yang dilakukan pemerintah, termasuk pengerukan sungai, hanya akan menjadi solusi jangka pendek apabila ekosistem di kawasan daratan terus mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan.

Ia mengatakan, perhatian pemerintah tidak cukup hanya tertuju pada badan sungai, tetapi juga harus menyasar kawasan bukit, lembah, rawa, dan daerah resapan air yang menjadi bagian penting dari sistem Daerah Aliran Sungai Mahakam.

BACA JUGA: Forum DAS Kaltim Soroti Dampak Aktivitas Tambang di Hulu Sungai, Siapkan Rekomendasi untuk Gubernur

"Langkah teknis seperti pengerukan akan sia-sia kalau pemerintah mengabaikan ekosistem di daratan. Yang harus diperbaiki bukan hanya sungainya, tetapi juga daerah aliran sungainya," ungkap Misman, Senin, 6 Juli 2026.

Menurut dia, kondisi DAS Mahakam perlu diketahui secara menyeluruh, sebelum pemerintah menjalankan berbagai program penataan sungai.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, luas DAS Mahakam mencapai 77.423 kilometer persegi, menjadikannya salah satu daerah aliran sungai terbesar di Kalimantan.

Wilayah tersebut, membentang di sejumlah kabupaten dan kota, meliputi Samarinda, Mahakam Ulu, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, hingga sebagian wilayah Kabupaten Malinau.

BACA JUGA: Misman: Banjir jadi Musibah, karena Samarinda Kehilangan Ruang Air

Selain DAS Mahakam sebagai kawasan utama, Wilayah Sungai (WS) Mahakam juga mencakup sejumlah daerah aliran sungai lain, seperti DAS Donang, DAS Semboja, DAS Ajiraden, DAS Manggar, DAS Somber, DAS Wain, DAS Sanggai, DAS Maridan, DAS Riko, DAS Tunan, hingga DAS Telakai.

Menurut Misman, luas kawasan tersebut menunjukkan, bahwa pengelolaan DAS tidak dapat dilakukan secara parsial.

Pemerintah perlu memastikan lebih dahulu kondisi daya dukung dan daya tampung lingkungan sebelum mengambil kebijakan yang berkaitan dengan normalisasi sungai.

Ia menjelaskan, DAS Mahakam memiliki fungsi yang sangat penting karena menopang berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari kebutuhan rumah tangga, kawasan perkotaan, industri, pertanian, perkebunan, perikanan hingga kehutanan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait