Bankaltimtara

DPRD Dapati Pasar Pagi Samarinda Sepi Setelah Revitalisasi, Pedagang Keluhkan Minim Pembeli

DPRD Dapati Pasar Pagi Samarinda Sepi  Setelah Revitalisasi, Pedagang Keluhkan Minim Pembeli

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi saat berbincang dengan pedagang Pasar Pagi.-istimewa-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Revitalisasi Pasar Pagi Samarinda senilai Rp468,5 miliar belum sepenuhnya menghadirkan dampak ekonomi bagi pedagang.

Meski bangunan baru telah berdiri megah, aktivitas perdagangan di dalam pasar masih lesu dan banyak pedagang mengaku kesulitan mendapatkan pembeli.

Temuan itu disampaikan Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) selama hampir 4 jam di Pasar Pagi, Kamis, 30 Juli 2026 lalu.

Ia meninjau seluruh area pasar dan mendengarkan langsung keluhan para pedagang. “Hampir semua permasalahan sudah kami dengarkan,” kata Iswandi, Selasa, 4 Agustus 2026.

BACA JUGA: 1.500 Kios Pasar Pagi Masih Tutup, Disdag Kota Samarinda Beri Deadline Agustus

Menurutnya, kondisi di lapangan jauh dari harapan. Banyak kios masih tutup, sejumlah lantai terlihat sepi, dan sebagian pedagang mengaku belum memperoleh penjualan yang layak sejak menempati kios baru.

“Pasar semegah ini ternyata banyak pedagang yang belum mendapat manfaat secara ekonomis,” ujarnya.

Iswandi mengungkapkan, ada pedagang yang mengaku selama tiga bulan belum menjual satu barang pun, sementara lainnya hanya memperoleh satu transaksi dalam beberapa hari.

Kondisi tersebut menunjukkan keberhasilan revitalisasi tidak cukup diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari hidupnya aktivitas ekonomi di dalam pasar.

BACA JUGA: DPRD: Pasar Pagi Harus Ramai Pedagang, Bukan Pemilik yang Sewakan Lapak

Salah satu persoalan yang ditemukan adalah banyaknya kios yang belum beroperasi.

Setelah berdialog dengan pedagang, Iswandi mengetahui bahwa sebagian pedagang memiliki lebih dari satu kios yang lokasinya tersebar di beberapa lantai.

Di tengah minimnya pembeli, membuka seluruh kios justru dianggap menambah beban operasional karena membutuhkan tenaga penjaga dan biaya tambahan.

Keluhan juga datang dari pedagang yang menempati area belakang gedung. Mereka mengaku jarang mendapat pengunjung karena lokasi dianggap kurang strategis dan tidak dilalui arus utama pembeli.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait