Kabar Baik untuk Orang Tua, Masih Ada 430 Kursi untuk SMP Negeri di Samarinda
Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) di SMPN 50 Samarinda.-istimewa-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Calon peserta didik yang belum diterima di SMP negeri di Samarinda masih berpeluang terbuka.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda mencatat masih tersedia sekitar 430 kursi kosong, yang dapat diisi melalui proses pemenuhan daya tampung sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Samarinda Wahiduddin menjelaskan, saat ini pihaknya juga sedang menyelesaikan validasi berbagai laporan, yang disampaikan masyarakat terkait pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Terdapat sekitar 36 aduan dari orang tua murid yang menyampaikan keberatan terhadap hasil seleksi.
BACA JUGA:Disdikbud Samarinda Tanggapi Aduan Wali Murid soal Zonasi pada SPMB SMP 2026
Seluruh laporan tersebut akan diverifikasi dengan mencocokkan kondisi riil daya tampung di masing-masing sekolah negeri.
"Secara keseluruhan SMPN di Kota Samarinda masih ada slot sekitar 430 kursi. Silakan bagi para orang tua yang anaknya ingin bersekolah di negeri memilih sekolah yang kuotanya masih tersedia," ujarnya,pada Selasa 7 Juli 2026.
Ia menerangkan, proses pemenuhan kursi kosong tersebut dilakukan sesuai ketentuan dalam Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru.
Regulasi tersebut memberikan ruang kepada satuan pendidikan untuk menerima peserta didik baru hingga kapasitas sekolah benar-benar terpenuhi.
Menurut Wahiduddin, masyarakat masih memiliki kesempatan menentukan sekolah tujuan selama kuota belum terisi penuh.
Namun, orang tua diimbau mempertimbangkan lokasi tempat tinggal ketika memilih sekolah agar peluang diterima lebih besar sesuai mekanisme seleksi berbasis domisili.
"Minimal salah satu pilihan sebaiknya sekolah yang paling dekat dengan rumah. Sistem membaca titik alamat dan batas jarak terluar yang diterima, sehingga meskipun bertetangga, hasilnya bisa berbeda," jelasnya.
BACA JUGA:SPMB Samarinda Diprotes, Siswa Palaran Gagal Masuk Sekolah Terdekat dan Harus Menempuh 7,8 Kilometer
Ia mengungkapkan, sistem seleksi yang diterapkan saat ini sepenuhnya menghitung jarak berdasarkan titik koordinat alamat yang tercatat dalam sistem.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
