Mufakat Kanjeng Sinuhun (6): Nada Ancaman

Mufakat Kanjeng Sinuhun (6): Nada Ancaman

Kabar ini sudah tersiar. Melalui tulisan-tulisan Kaum Hermes. Termasuk indikasi keterlibatan para sinuhun. Bahkan informasinya hingga ke pemerintah pusat Negeri Antahberantah. Lembaga anti rasuah pun menurunkan timnya. Menelusuri apakah benar terjadi korupsi berjamaah pada proyek perluasan lahan pertanian Pemangku Kota Ulin. Memang, terkadang tulisan itu lebih tajam ketimbang silet. 

------------------

MUFAKAT KANJENG SINUHUN- Sehabis salat subuh, Henry masih mengantuk berat. Tak biasanya. Padahal, rutinitas Henry setelah subuhan itu membantu Lisa membersihkan rumah; menyapu halaman dan membuang sampah. Jika urusan bersih-bersih selesai, berlanjut ke tugas berikutnya; memandikan kedua anaknya.

Tapi ini hari Sabtu. Waktunya bagi Henry bermalas-malasan. Memanjakan diri. Ia biasa tidur hingga pukul 09.00 pagi. Apalagi malamnya begadang. Menghabiskan malam di sebuah kafe dengan teman-temannya, Kaum Hermes. Pulangnya menjelang dini hari.

“Tolong bangunin lagi jam 09.00 ya,” kata Henry, setengah berbisik kepada Lisa.

Sang istri yang tengah melipat pakaian itu pun mengangguk, seraya berkata: “Makanya jangan begadang”. Pada pukul 07.15 telepon Henry berbunyi nyaring. Henry terbangun. Tapi ia masih sangat ngantuk. Nomor tak dikenal yang masuk. “Siapa lagi ini, ah,” gumamnya. Ia pun mematikan gawainya. Kemudian lanjut merebahkan kepalanya.

Namun, gawainya kembali bergetar. Terus-terusan. Kemudian disusul bunyi dari pesan WhatsApp yang masuk. Penasaran. Ini mengganggu sekali kenyamanan tidurnya. Mungkin ada yang penting—pikir Henry. Ia pun mencoba meraih kembali gawainya.

Oh.. ternyata. Seorang senior ketika kuliah dulu. Romi. Bukannya dia sudah lama bekerja di pusat Negeri Antahberantah. Ibu kota besar. Sudah lama pula Henry tak bertemu dengan Romi. Bahkan sebetulnya tidak terlalu akrab. Hanya kenal sepintas saja.

“Ada apa ya,”-- Henry kembali bergumam. Dalam pesan singkatnya itu, Romi mengajak bertemu, siang itu juga. Sekitar pukul 10.00. Henry pun membalas dan menyetujui pertemuan itu. Setelah membalas pesan tersebut, Henry kembali melanjutkan tidurnya.

*****

Romi bersama dua rekannya sudah tiba pukul 10.00 di Ulin Baru. Sebuah kawasan kuliner. Rumah makan dan kafe berderet di tempat itu. Ada beberapa blok. Ada juga pasar semi modern masih di kompleks yang sama.

Suasananya masih tampak sepi. Jam segitu memang rumah makan dan kafe baru mulai buka. Bahkan sebagian tampak tutup. Memang Ulin Baru biasa ramainya pada sore hingga malam hari.

Romi dan dua rekannya memilih Kafe Tengah. Yang saat itu kebetulan sudah buka. Selain nyaman untuk ngobrol santai, Kafe Tengah juga punya beragam menu. Termasuk makanan berat. Jadi, bisa sekalian makan siang. Sesuai namanya, kafe itu pas berada di tengah-tengah kompleks Ulin Baru.

Selang beberapa saat, Abe pun muncul. Rekan Henry sesama Kaum Hermes juga diundang Romi siang itu. Abe memang bukan satu almamater dengan Romi. Pun begitu dengan dua rekan Romi. Tapi Abe pernah sekali ketemu Romi. Setahun lalu. Kebetulan Romi masih menyimpan nomor kontaknya.

“Apa kabar bro, sudah lama,” sapa Abe.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: