Bankaltimtara

Kaltim: Sepatu Sekolah yang Kekecilan vs Parade Hedonisme Pejabat yang Ugal-ugalan

Kaltim: Sepatu Sekolah yang Kekecilan vs Parade Hedonisme Pejabat yang Ugal-ugalan

Randy Tukan.-dok.pribadi-

Oleh: Randy Tukan

Ketua PMKRI Cabang Samarinda Periode 2026/2027

Di atas tanah Kalimantan yang semerbak oleh emas hitamnya, sebuah panggung realitas berdiri dengan dua dekorasi yang saling berseberangan. 

Pada satu sisi, seorang siswa SMK di Samarinda harus meregang nyawa akibat sepatu sekolah yang kekecilan. Di sisi lain, para pejabat justru mempertontonkan parade hedonisme yang ugal-ugalan. Kesenjangan ini tidak sekadar mencolok, tetapi juga merobek logika kemanusiaan. 

Mari sejenak kita memberi “standing applause” secara satir kepada Mandala Rizky Syahputra (16), seorang siswa yang seolah menjadi simbol paling getir dari narasi efisiensi anggaran.

Ia memilih bertahan dengan sepatu sempit, seakan memahami bahwa anggaran negara tengah difokuskan pada hal-hal yang dianggap lebih “prioritas”. Dalam ironi yang pahit, pengorbanannya mencerminkan bagaimana kebutuhan dasar rakyat sering kali tersisih. 

Mandala menjadi potret tragis dari wajah ketimpangan. Baginya, kaki yang melepuh, infeksi yang menjalar, hingga nyawa yang melayang seperti dianggap sebagai konsekuensi kecil dari keterbatasan.

Sementara itu, di ruang lain, kemewahan justru dirayakan tanpa rasa bersalah.

Ironi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah lebih dapat diterima seorang anak kehilangan nyawa karena sepatu sempit, daripada seorang pejabat kehilangan gengsi karena fasilitas yang tak mewah? 

Bayangkan seorang anak yang menyimpan harapan masa depannya dalam sepasang sepatu yang telah kehilangan kelayakan.

Pendidikan baginya bukan sekadar angka di rapor, melainkan perjuangan fisik yang nyata—setiap langkah menuju sekolah menjadi rasa sakit yang dipendam.

Ia tidak mengeluh, sebab suara kemiskinan kerap tak memiliki frekuensi yang cukup kuat untuk didengar oleh para pengambil kebijakan. 

Hari demi hari, sepatu itu menjadi penjara bagi tubuhnya sendiri. Luka yang awalnya kecil berubah menjadi infeksi serius, hingga akhirnya merenggut nyawanya.

Sebuah tragedi yang bermula dari sesuatu yang tampak sederhana: sepasang sepatu yang tak mampu diganti. Kini, yang tersisa hanyalah kenangan dan sepasang sepatu usang yang menjadi simbol kegagalan kolektif. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: