Bankaltimtara

BNNP Kaltim Bongkar Rute Peredaran Narkotika Internasional, Kurir bawa 996 Gram Sabu diciduk di Samarinda

BNNP Kaltim Bongkar Rute Peredaran Narkotika Internasional, Kurir bawa 996 Gram Sabu diciduk di Samarinda

Pemusnahan barang bukti sabu seberat 993,78 gram di Kantor BNNP Kaltim, Samarinda-Mayang/Disway Kaltim-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM-Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur memetakan sejumlah jalur penyelundupan narkotika internasional yang masih aktif melintasi Kalimantan. 

Pemetaan tersebut disusun berdasarkan hasil analisis berbagai pengungkapan kasus sejak 2024 hingga 2026. 

Termasuk penangkapan dua kurir sabu hampir satu kilogram di Samarinda.

Kepala BNNP Kaltim, Brigjen Pol Rudy Mulyanto, mengatakan salah satu jalur utama penyelundupan berasal dari Sabah, Malaysia, menuju Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. 

Dari wilayah perbatasan itu, narkotika kemudian didistribusikan ke sejumlah daerah di Kalimantan, sebelum diteruskan ke Sulawesi hingga Indonesia bagian timur.

"Ada beberapa rute yang sudah kami analisis sejak 2024 sampai 2026. Dari Sabah masuk ke Nunukan, kemudian bisa turun ke Berau, Samarinda, Balikpapan, Kalimantan Selatan." 

BACA JUGA:Polresta Samarinda Sita Narkoba Senilai Rp982 Juta dari 56 Kasus, 74 Tersangka Ditahan

"Ada juga yang diteruskan ke Tolitoli, Palu, Parepare, Makassar, Surabaya, sampai Bali dan Nusa Tenggara," kata Rudy, Rabu 5 Agustus 2026.

Menurutnya, jalur tersebut bukan sekadar dugaan, melainkan dipetakan berdasarkan pola yang muncul dari berbagai pengungkapan perkara narkotika selama tiga tahun terakhir.

Atau analisa BNNP mulai dari pengungkapan perkara sejak 2024 sampai 2026. 

Rudy mengatakan, hasil pemetaan telah dikoordinasikan bersama BNN RI dan Direktorat Reserse Narkoba di sejumlah kepolisian daerah, mulai dari Polda Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Timur hingga Bali. Langkah itu dilakukan untuk memperkuat pengawasan terhadap jalur distribusi narkotika lintas daerah.

Menurutnya, jaringan narkotika terus mengubah pola pergerakan dan memanfaatkan berbagai jalur distribusi untuk menghindari penindakan aparat.

"Mereka selalu mencari jalur yang dianggap paling aman." 

"Karena itu, pengawasan tidak bisa hanya dilakukan di satu daerah, tetapi harus terintegrasi antardaerah yang menjadi lintasan peredaran narkotika," sebut Rudy.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait