Bankaltimtara

Pandemi dan Peluang Bangkit, Special MarkPlus-30 Anniversary

Pandemi dan Peluang Bangkit, Special MarkPlus-30 Anniversary

Pandemi COVID-19 mempercepat era disrupsi. Kini semua dipaksa masuk ke dunia digital. Perubahan ini sebagai penanda budaya baru. Namun Founder & Chairman MarkPlus Inc MP Hermawan Kartajaya menilai akan ada peluang di balik wabah. Akan selalu seperti itu.   Oleh: Devi Alamsyah ———- PERAYAAN Hari Jadi MarkPlus (MP) ke-30, Sabtu 2 Mei diisi diskusi webinar kebangsaan. Menghadirkan beberapa tokoh nasional seperti Mohammad Nuh, ketua Dewan Pers dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian beberapa pemimpin redaksi media nasional. Selain paparan perjalanan MP selama 30 terakhir ini, Hermawan Kartajaya juga sharing soal dunia marketing di masa pandemi ini. Menurutnya, kini dunia marketing harus dipadukan dengan entrepreneurship. Marketing adalah manajemen. Tapi entreperneurship adalah keberanian bersikap, dan jiwa kepemimpinan. “Tanpa entrepeneurship, marketing tidak akan jalan,” katanya. COVID-19 adalah sebuah krisis yang tidak ada bandingannya dalam 100 tahun terakhir. Belum pernah ada krisis sepeti COVID-19 yang memaksa hampir seluruh negara dunia menghentikan sebagian besar kegiatan ekonomi, pendidikan, keagamaan, sosial dan budaya. Belum pernah ada krisis seperti COVID-19 yang menyebabkan harga minyak, salah satu indikator perekonomian penting dunia, nilainya negatif! Karena itu jiwa entrepreneurship perlu ditumbuhkan agar bisa melewati masa pandemi. “Yang terpenting justru setelah pandemi ini,” ujar Hermawan. Namun, Hermawan Kartajaya percaya dengan arti krisis dalam bahasa Mandarin, yaitu wei-ji, bahaya dan peluang. Dan itu langsung kelihatan jelas. Krisis seperti COVID-19 bukan hanya menghentikan hampir semua kegiatan manusia di hampir seluruh penjuru dunia, tapi membuat udara dan langit dunia serta sungai dan kanal menjadi lebih bersih dan indah. Foto-foto mengenai puncak Himalaya di Nepal, gunung tertinggi di dunia, yang terlihat dari jarak puluhan kilometer di India, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, banyak bertebaran. Hal serupa terjadi dengan kanal di Venesia yang dimasa COVID-19 menjadi jernih, sesuatu yang juga tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Udara bersih dan langit cerah Jakarta dimasa membuat Gunung Gede dan Salak terlihat dari Jakarta. Yang menarik, dalam pidato perayaan virtual 30 Tahun MarkPlus yang berlangsung pada tanggal 1 Mei 2020, Hermawan Kartajaya mengungkapkan, “Negara yang sering hidup dalam krisis seperti Korea Selatan, Taiwan dan Tiongkok, karena berada dalam ancaman perang yang bisa meletus sewaktu-waktu, merupakan bangsa yang paling cepat mengatasi krisis COVID-19!”. Suasana berada dalam kondisi perang membuat warga dari ketiga negara menjadi lebih disiplin mematuhi langkah-langkah yang diambil untuk menghentikan penyebaran wabah. Meski sempat kewalahan, pemerintahnya juga cepat memobilasi ekosistem kesehatan yang ada di negaranya menghadapi wabah ke tingkat yang bisa dikendalikan dalam waktu singkat. Apa yang terjadi di Korea Selatan, Taiwan dan Tiongkok di masa pandemi juga membuat Hermawan yakin bahwa corporate values yang selama bertahun-tahun disosialisasikan sepanjang waktu dan menjadi perilaku sehari-hari bukan hanya membuat MarkPlus sigap bertransformasi, tapi juga siap berkontribusi lebih besar untuk Indonesia di masa 10 tahun mendatang. “Kita hanya punya brand. Dan ini yang terpenting. Untuk membangi brand itu harus ada pengakuan dari customer dan produk. Dua unsur ini yang harus terpenuhi,” jelasnya. Sementara itu, Ketua Forum Pemred Kemal E Gani mengakui bahwa pandemi ini mengubah perilaku ekonomi. Namun, Kemal yang juga pemimpin redaksi Majalah SWA itu melihat akan ada peluang-peluang baru bagi mereka yang jeli melihatnya. Yang menarik disampaikan Chairman Infobank Institute Eko B Supriyanto. Pandemi ini memaksa semua masuk ke era disrupsi. Yang tadinya masih ogah-ogahan meninggalkan kenyamanan, kini terpaksa harus masuk. Semua kini pakai sistem online. Krisis yang terjadi di Indonesia pada 1998, kata dia, dialami oleh negara. Kemudian pada 2008 krisis menghantam corporate. Saat ini, pandemi COVID-19, justru dirasakan oleh UMKM terlebih dahulu. “Sektor UMKM yang biasanya tak pernah terkena krisis, kini malah yang paling pertama terdampak. Jika ini berlangsung lama, kemungkinan akan merembet ke corporate dan perbankan,” katanya. Sementara itu, M Nuh memaparkan bahwa wabah corona bisa menjadi pembelajaran. Ia yakin, bangsa Indonesia bisa melaluinya dengan baik. Mantan Pemred Kompas Budiman Tanuredjo mengakui, wabah ini memukul media. Menurutnya media menjadi salah satu yang harus diselamatkan. Karena ditengah pandemi ini, harus ada yang melakukan clearing house of information. Kembali ke soal MP. Ketua Umum Forum Pimred dan Pemimpin Redaksi SWA adalah saksi hidup bagaimana Hermawan Kartajaya menghidupkan values MarkPlus. Tak lama setelah menyatakan bahwa brand is the ultimate value of marketing dalam insertion di majalah SWA di bulan Agustus 1994 berjudul Conceptual Marketing Plus 2000, Hermawan juga menjadi perintis survey merek terpopuler di Indonesia yang terus dijalankan majalah SWA hingga kini. Dari sejarah panjang survei merek terpopuler Indonesia, terlihat bagaimana brand asli Indonesia menjadi lebih kuat, menjadi salah satu motor perekonomian Indonesia selama lebih dari 2 dekade terakhir. Kontribusi yang diberikan MarkPlus di Indonesia bukan hanya membangun kesadaran akan merek, tapi bagaimana memasarkan konsep marketing hingga diterapkan luas bukan hanya dalam dunia bisnis tapi juga non bisnis, seperti kepolisian, pariwisata dan negara. Berpijak dari pengalaman puluhan tahun sebagai guru matematika yang bisa menyederhanakan intisari pelajaran matematika, konsep pemasaran disederhanakan dalam 9 elemen inti pemasaran yang diringkas menjadi Positioning-Differentiation-Branding (PDB). Sehingga bukan hanya mudah dipahami oleh orang-orang dari dunia bisnis, tapi bahkan diterapkan sejumlah politisi daerah ketika membangun wilayahnya setelah UU Otonomi Daerah resmi dijalankan sejak tahun 2001. Tentu saja krisis yang pernah terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 30 tahun, juga menjadi bagian penting dalam 30 tahun perjalanan cerdas MarkPlus. Krisis Asia di tahun 1998, membuka jalan kerjasama panjang antara Hermawan Kartajaya-MarkPlus dengan mahaguru pemasaran dunia Philip Kotler hingga kini, melalui penulisan berbagai buku pemasaran populer. Di mulai dari buku Repositioning Asia yang terbit di tahun 2000, ada 6 buku yang sudah dibuat bersama, termasuk buku Marketing 5.0: Technology for Humanity yang akan terbit di akhir 2020. Dua diantara 6 buku hasil kerjasama tersebut menjadi buku laris dan terbit dalam lebih 20 bahasa internanasional yang berbeda, yaitu Marketing 3.0 dan Marketing 4.0. MarkPlus yang dijalankan aktif oleh 4 generasi berbeda, baby boomers, Gen X, Gen Y dan Gen Z dan memberikan kesempatan yang sama bukan hanya tanpa membedakan berdasarkan SARA tapi bahkan ijazah juga menjadikan krisis yang terjadi dalam tiga dekade sebagai momentum memberikan kontribusi yang lebih baik untuk Indonesia. Paska krisis 1998, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, meminta MarkPlus melakukan branding Jogja, yang kemudian diwujudkan dalam logo dan tagline baru Jogja. Krisis keuangan global 2008, menjadikan usulan strategi pengembangan perbankan syariah Indonesia Indonesia yang dipresentasikan di hadapan Gubernur BI Boediono dan dihadiri antara lain KH Ma’ruf Amin, 2 tokoh yang kemudian menjadi Wakil Presiden RI, setelah disetujui dan diterapkan menjadi salah satu motor pertumbuhan impresif perbankan syariah Indonesia dari 2008 hingga 2019. Berbagai kontribusi yang telah diberikan selama 30 tahun perjalanan cerdas, menjadikan MarkPlus memasukan Indonesia sebagai bagian dari corporate values, dimana berasal dan berpijak dari Indonesia tidak menjadi halangan untuk berperan di Asia atau bahkan dunia. Konsep marketing dan entrepreneurship yang dilahirkan MarkPlus di Indonesia, bisa diterima luas dan diterapkan di berbagai penjuru dunia. Begitu pula dengan semangat menjadikan online dan offline berpadu sebagai OMNI, yang diluncurkan di tahun 2017, menjadikan MarkPlus lincah mempraktekkan WFH dan WFO di berbagai kota yang berbeda di Indonesia, sejak kebijakan tersebut diterapkan.  (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: