Berkah Macau
Ups, salah.
Bus ini ternyata hanya mengantar kami sampai ke pulau imigrasi. Yang letaknya di dekat bandara Hongkong.
Ini pulau buatan. Khusus untuk gedung imigrasi. Plus terminal bus.
Setelah menurunkan kami, bus tersebut balik lagi ke Hongkong. Kami ditinggal di situ. Untuk urusan imigrasi --pertanda kami sudah meninggalkan Hongkong.
Di belakang imigrasi itu ada terminal bus lagi. Yang akan mengantar kami ke Macau. Lewat jembatan 53 Km itu.
Bus yang ini ternyata penuh. Penumpangnya gabungan dari berbagai jurusan. Termasuk mereka yang baru turun dari pesawat terbang.
Perjalanan di atas jembatan laut dimulai dari pulau buatan ini.
Sepanjang jembatan hanya terlihat satu-dua sedan. Ternyata kendaraan kecil memang dilarang lewat. Kecuali yang mendapat izin khusus.
Itulah yang jadi topik terbaru soal jembatan itu. Bagaimana bisa investasinya kembali.
Tahun depan kendaraan kecil sudah diperbolehkan.
Ternyata jarak 53 km itu tidak semuanya di atas laut. Jembatan ini tiba-tiba seperti Ontoseno --masuk ke dalam laut. Selama 10 menit. Lalu muncul lagi ke permukaan --dalam bentuk jembatan lagi.
Itu untuk lalu-lintas kapal besar. Agar tidak terganggu jembatan.
Siapa tahu kelak --100 tahun lagi? --ada kapal yang begitu besarnya - -sampai jembatan setinggi apa pun tidak cukup.
Sepanjang jembatan saya memperhatikan kanan kiri. Ketika mendekati Macau, jembatan itu memecah. Satu ke arah Macau. Satunya lagi ke arah Zuhai.
Zuhai adalah kota di Tiongkok yang terdekat dari Macau. Hanya dibatasi sungai kecil --atau satu parit besar.
Bus kami menuju yang ke arah Macau. Berhenti di gedung imigrasi. Yang juga dibangun di atas pulau buatan.
Gedung imigrasi ini besarnya bukan main. Seperti disiapkan untuk menerima turis asing dalam jumlah jutaan setahun.
Para penjudi.
Penumpang pun turun untuk mengurus imigrasi. Tanpa visa. Di depan imigrasi inilah kami naik bus yang berbeda lagi. Angkutan khusus dari imigrasi ke tujuan kami di Macau.
Sedang bus yang melewati jembatan tadi balik ke Hongkong lagi. Untuk membawa pulang siapa pun yang sudah selesai berjudi di Macau.
Perjalanan ini membuat saya tahu: bus jurusan Macau adalah shuttle bus point to point. Hanya dari imigrasi Hongkong ke imigrasi Macau.
Saya hanya beberapa jam di Macau. Hanya untuk makan siang. Sambil melihat-lihat Macau di akhir 2019.
Saya pun balik lagi ke Hongkong. Sore itu ada demo besar lagi di Kowloon. Saya harus melihatnya.
Kali ini saya tidak ke Zuhai. Sudah terlalu sering ke sana. Saya sudah ke Zuhai sejak 25 tahun lalu.
Kota Zuhai menarik bagi saya. Inilah kota modern yang dibangun tanpa anggaran negara.
Modalnya hanya semangat otonomi daerah.
Waktu itu Wali Kota Zuhai iri. Kota-kota di seluruh Tiongkok maju pesat. Zuhai masih seperti kampung nelayan.
Zuhai ketinggalan jauh dari Shenzhen --tetangganya. Yang memang dibangun besar-besaran oleh pemerintah pusat.
Maka Wali Kota Zuhai kirim surat ke Pusat. Isinya: izinkanlah membangun Zuhai tanpa anggaran negara. Dengan syarat Zuhai diizinkan mengundang modal dari luar yang pajaknya dibolehkan langsung dipakai di daerah.
Sejak saat itu Zuhai menjadi kota modern. Mengejar kota lain seperti Xiamen.
Kini Zuhai akan dimanfaatkan untuk mendukung masa depan Macau. Terutama sebagian wilayah Zuhai yang masih tertinggal. Seperti pulau Hengqin tadi.
Macau --yang 70 persen pendapatan negaranya dari pajak 38 casino-- akan berubah drastis.
Militansi demonstran di Hongkong membawa berkah bagi Macau.(Dahlan Iskan)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

