Oleh: Aqilla Yusuf Fathoni Hakim
Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, FISIP, Universitas Diponegoro
KETIKA sebuah daerah berkembang, tempat pusat perbelanjaan modern bukan hanya menjadi sebuah tempat berbelanja, melainkan menjadi sebuah tanda kemajuan suatu daerah.
Namun, berbeda dengan Kabupaten Berau di Provinsi Kalimantan Timur. Di Tengah berkembangnya aktivitas ekonomi di berbagai daerah melalui pusat perbelanjaan modern, Berau sampai saat ini belum memiliki pusat perbelanjaan modern seperti kota-kota lain di provinsi yang sama yaitu Kalimantan Timur.
Lantas, apakah kondisi tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Berau tertinggal?
Jawabannya tidak sesederhana itu, kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dengan keberadaan gedung modern saja.
Berau memiliki karakter dan potensi ekonomi yang berbeda. Kekuatan ekonomi utama Kabupaten Berau berada pada sektor pariwisata seperti Kepulauan Derawan, Maratua, Labuan Cermin, dan Kawasan wisata alam lainnya.
Arah pembangunan tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Kabupaten Berau menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu prioritas pembangunan dan sedang mendorong peralihan dari ketergantungan terhadap sektor pertambangan menuju sektor ekonomi-non tambang.
Dalam arah pembangunan daerah, pariwisata disebut sebagai prioritas pembangunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, diketahui bahwa kontribusi penunjang sektor kepariwisataan terus mengalami peningkatan selama kurun waktu 4 tahun terakhir ini yaitu 1,38 persen pada tahun 2022,1,76 persen tahun 2023, 2,02 di tahun 2024 dan mencapai 2,32 persen pada tahun 2025 dari total nilai PDRB atas harga berlaku sebesar 51.306,61 milyar rupiah.
Hal ini menunjukan bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi yang juga dapat menggerakkan perekonomian yang ada di Kabupaten Berau dan terus meningkat setiap tahunnya.
Hal ini tentunya juga sejalan dengan dukungan keseriusan pembangunan infrastuktur dari dan menuju ke tempat wisata dan perbaikan serta pemenuhan fasilitas baik umum maupun dasar yang ada di daerah wisata.
Keseriusan tersebut terlihat dari pembangunan infrastruktur. Dimana pada 2026, pemerintah melalui Dinas PUPR mengalokasikan sekitar 18,8 miliar rupiah untuk rekonstruksi jalan di kawasan Pulau Derawan dan sekitar Rp19,2 miliar untuk pembangunan lanjutan jalur utara Maratua.
Infrastruktur tersebut diarahkan untuk meningkatkan akses wisatawan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat lokal.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Kabupaten Berau tidak hanya mengejar pembangunan fisik di daerah pusat, tetapi juga mengejar keseriusan pemerataan di daerah yang dianggap memiliki potensi ekonomi jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, belum hadirnya pusat perbelanjaan seperti mal di Kabupaten Berau tidak menunjukkan bahwa Kabupaten Berau tertinggal, dengan kata lain tidak dapat dikatakan bahwa ukuran keberhasilan daerah ditunjukkan hanya oleh keberadaan pusat perbelanjaan modern saja.