BONTANG, NOMORSATUKALTIM - Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris ragu dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, yang menyebut Kota Taman memiliki tingkat pengangguran tertinggi di Bumi Etam.
Selain memertanyakan validasi data tersebut, ia juga minta penyajian data ketenagakerjaan yang mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Karena, label “penyumbang pengangguran terbesar” tidak sejalan dengan karakteristik Kota Bontang sebagai kota industri.
BACA JUGA:Baru Tahun Depan Jalan Kampung Timur Dicor, Dinas PUPR Sebut Tunggu APBD Bontang Normal
Dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, serta keberadaan perusahaan-perusahaan besar, ia menilai klaim tersebut perlu dikaji ulang secara serius.
“Saya jujur belum percaya Kota Bontang menjadi penyumbang pengangguran terbesar. Penduduk kita sedikit, industri besar ada."
BACA JUGA:Potret Kelam Narkoba di Bontang, Seorang Anak 15 Tahun Kecanduan Sabu
"Kalau datanya tidak sesuai kondisi riil, ini bisa menyesatkan arah kebijakan,” katanya, Rabu 11 Februari 2026.
Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Bontang, data pengangguran pada awal 2025 mencatat sekitar 5.400 orang.
Setelah itu, berbagai intervensi melalui kegiatan job fair, sekitar 3 ribu pencari kerja berhasil terakomodir.
Terutama pada periode Juli hingga Desember 2025. Salah satu perusahaan yang menyerap tenaga kerja terbesar adalah PT Pupuk Kalimantan Timur.
BACA JUGA:Sejumlah Personel Positif Narkoba, BNN Bakal Pantau Ketat Disdamkartan Bontang
“Kalau dari 5.400 pengangguran sudah terserap 3.000 orang, secara logika tidak mungkin lagi kita disebut tertinggi. Ini yang perlu diluruskan datanya,” tegasnya.
Baginya, data ketenagakerjaan bukan sekadar angka statistik, melainkan pondasi utama dalam penyusunan kebijakan pembangunan.
Data yang keliru, katanya, dapat membuat pemerintah salah sasaran dalam merancang program dan anggaran.