"Sekarang kan kebanyakan foto cuma di-upload terus hilang gitu aja, kayak nggak ada hasil akhirnya," ucap Ferly, saat wawancara pada Rabu (9/4/2025).
Peserta workshop didominasi generasi muda, terutama mereka yang lahir setelah tahun 2003. Sebagian besar bahkan belum pernah menyentuh kamera film sebelumnya.
Namun justru dari ketidaktahuan itu muncul rasa ingin tahu atau sebuah dorongan untuk mencoba pengalaman berbeda dari dunia yang serba cepat. Di tengah sesi praktik, para peserta saling memotret dan berbagi hasil bidikan.
"Kamera analog menjadi medium yang memperlambat waktu dan menghadirkan makna pada setiap jepretan," imbuhnya.
Tak hanya mengenalkan kembali kamera film, Ferly juga menunjukkan bagaimana teknologi masa kini dapat dipadukan untuk memerkaya pengalaman "ber-analog".
BACA JUGA:Penelitian: Mengurangi Akses Internet dapat Mengembalikan Otak Lebih Muda 10 Tahun
Beberapa kamera keluaran lama, seperti buatan tahun 70-an dan 80-an, kini dapat dipasangkan dengan alat pengukur cahaya modern agar hasil fotonya lebih akurat.
"Jadi bukan soal nostalgia saja. Tapi, bagaimana kamera film ini tetap bisa kita optimalkan dengan bantuan alat-alat sekarang," ujarnya.
Workshop tersebut menjadi lebih dari sekadar ajang belajar teknis. Ia menjelma menjadi perayaan atas ingatan, cara baru memahami lambatnya waktu dalam bingkai, dan bagaimana gambar bisa tetap hidup. Bukan di memori ponsel, tapi dalam lembaran yang bisa disentuh dan diwariskan.