Sektor pertambangan batu bara kian tak bergairah dan perlu penggantinya. Tampak dari udara, areal pertambangan di Kabupaten Berau. (ARIE PRAMANA PUTRA) TANJUNG REDEB, DISWAY – Kabupaten Berau membutuhkan alternatif sumber penggerak ekonomi baru dalam waktu jangka panjang, menggantikan sektor pertambangan batu bara. Pasalnya, eksistensi emas hitam tidak lagi bergairah sejak beberapa tahun. Dorongan itu disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Berau, Al Hamid. Dia menilai, Bumi Batiwakkal harus mengurangi ketergantungan pada sektor tambang. Meskipun saat ini, pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB). Jatuhnya harga batu bara di pasar global, harus menjadi perhatian serius. “Benar, suatu waktu naik dan melambungkan ekonomi, namun disaat yang berbeda justru dapat menjadi hal memperlambat pertumbuhan. Apalagi, sifat batu bara tidak terbarukan dan suatu saat akan habis,” katanya kepada Disway Berau, kemarin. Lanjut Hamid, bisa dikatakan sektor batu bara melihat tren. Sisi lain, pergerakan batu bara mengalami perlambatan dan mulai kalah bersaing dengan energi terbarukan, memengaruhi gas minyak batu bara, energi fosil dan sebagainya. Sehingga, sudah selayaknya pemerintah melek dan berpikir panjang untuk mencari penganti dan alternatif penganti sektor pertambangan. Sebab, daerah paling utara Kaltim ini dikaruniai sumber daya alam (SDA) melimpah. Dikatakannya, saat ini cukup banyak sektor yang berpotensi untuk mengantikan tambang, seperti perkebunan, pertanian, perikanan, kelautan, dan pariwisata yang kini telah mendunia. “Apalagi dengan isu IKN ini, Berau bisa menjadi Bandung dan Balinya Kaltim,” terangnya. Adapun Indonesia sebagai eksportir yang cukup mampu menghadapi tekanan dari pasar internasional yang masih membutuhkan batu bara, seperti China, India, Jepang dan Korea Selatan. Hamid mengatakan, daerah penghasil batu bara jangan terlena, pertambangan bisa mati seperti era industri kayu dan pulp yang sempat merajai era tahun 1980-2000-an. Jika Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor batu bara diambil terlalu tinggi, kata dia, akan membebani sejumlah pengusaha. Perlahan, operasional perusahaan akan melemah dan bahkan kolaps. Agar tidak merugi, perusahaan akan melakukan langkah efisiensi dengan merumahkan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. Alhasil, jumlah pengangguran di Kabupaten Berau, akan meningkat. “Kami merekomendasikan, risiko batu bara berpotensi mengalami menyusut, dimasukkan ke dalam perencanaan pembangunan dan mengembangkan sektor lain sebagai langkah antisipasi,” terangnya. Selain mengali potensi SDA, usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kreatif masyarakat juga perlu dihidupkan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau sebagai leader-nya pemegang regulasi harus proaktif membimbing dan mengarahkan pelaku usaha. Terutama dalam menyediakan pasar untuk menual hasil produk home industry. Pasalnya, pelaku UMKM selama ini hanya mengirim bahan mentah dan diproduksi daerah lain. “Saya sebut pemerintah kecolongan. Mereka mengklaim hasil produk daerahnya, padahal bahan bakunya dari Berau,” bebernya. Padahal, jika hasil produksi dikemas dengan baik dan benar, akan memacu tingginya nilai jual di pasaran dan menjawab keluhan masyarakat yang berkecimpung disuatu bidang usaha masing-masing. Serta, memacu semangat pelaku UMKM untuk menyajikan produk “Tanpa adanya dorongan pemerintah, pertumbuhan UMKM akan lambat. Ini merupakan tanggung jawab dan pekerjaan rumah pemerintah, terutama dalam hal pemasaran,” sebutnya. Dalam pengembangannya, pemerintah juga harus melibatkan asosiasi atau himpunan pengusaha di Berau, dalam membantu mencarikan pemasaran sesuai prodak yang dikembangkan. Sementara, pemerintah fokus pengembangan sumber daya manusia (SDM) para pelaku UMKM, dengan melakukan pelatihan dan pendidikan. Sebab, UMKM diproyeksi mampu menutupi asupan pendapatan daerah untuk menyongsong pembangunan di Kabupaten Berau. “Saran kami seperti itu. Tercapainya hal ini, tergantung pemerintah sebagai eksekutor di lapangan,” tandasnya.(*/jun/app)
Banyak Potensi Gantikan Tambang
Rabu 18-12-2019,12:16 WIB
Reporter : admin3 diskal
Editor : admin3 diskal
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 31-05-2026,10:15 WIB
Diduga Terjadi Klaim Ganda, Konsumen Gugat Pengembang Grand City Balikpapan Senilai Rp3,2 Miliar
Senin 01-06-2026,06:00 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 1 Juni 2026, Cek di Sini!
Minggu 31-05-2026,14:36 WIB
Perusahaan Tambang di Berau Mulai Lakukan PHK, Disnakertrans Prediksi Berlangsung Hingga Agustus
Minggu 31-05-2026,12:01 WIB
Warna Pintu Depan Rumah yang Sebaiknya Dihindari dan Pilihan Terbaik untuk Mempercantik Fasad Hunian
Minggu 31-05-2026,11:02 WIB
BKSDA Kaltim Bangun Koridor Habitat Orangutan, Cegah Isolasi Populasi dan Perkawinan Sedarah
Terkini
Senin 01-06-2026,10:00 WIB
Sewa Pikap untuk Angkut Keramik Curian, Pria di Balikpapan Malah Diantar Warga ke Polisi
Senin 01-06-2026,09:30 WIB
Teras Samarinda Baru Setor Rp500 Juta, DPRD Minta Varia Niaga Berbenah
Senin 01-06-2026,09:00 WIB
Disbun Kaltim Surati 250 Perusahaan Sawit, Larang Penurunan Harga TBS Sepihak
Senin 01-06-2026,08:30 WIB
Polsek Sangkulirang Gerebek Dugaan Prostitusi Online, Berawal dari Aduan 110
Senin 01-06-2026,08:01 WIB