Nomorsatukaltim.com – Koalisi Masyarakat Sipil Kaltim menilai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) masih bermasalah. Mereka menuntut proses revisi sejumlah pasal di kedua UU ini harus melibatkan masyarakat sipil. Delegasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) LBH Samarinda, Rasid Ripamole, menyebut revisi UU ITE yang tengah digodok DPR RI tidak dilakukan secara transparan. “Setidaknya Panja Komisi 1 telah menggelar 12 rapat terkait revisi kedua UU ITE. Dari jumlah tersebut ternyata hanya 5 rapat yang diumumkan secara resmi di laman DPR RI,” terang Rasid saat konferensi pers di Kantor YLBHI-LBH Samarinda, Jumat (14/7/2023). “Itu pun hanya mencantumkan siapa saja yang hadir tanpa menyertakan isi pembahasan,” imbuhnya. Proses revisi kedua UU ITE itu, lanjutnya, juga tidak melibatkan masyarakat sipil secara maksimal. Terlihat dari keterlibatan elemen masyarakat sipil, hanya dipanggil DPR RI sebanyak dua kali, dari total 12 rapat yang digelar. Bahkan, KMSK tidak tahu seberapa banyak aspirasi mereka yang diakomodiasi. Alasan selanjutnya yang menjadi dasar penolakan ialah pasal karet yang tidak direvisi sama sekali. Yaitu Pasal 27 ayat (3) dan Pasal 28 ayat (2) tentang pencemaran nama dan hasutan kebencian. Serta pasal 45 dan pasal 45A tentang pemidanaan. Setidaknya ada 332 orang dituduh melanggar pasal-pasal bermasalah yang multitafsir tersebut. Korbannya tidak hanya berasal dari kalangan aktivis dan pejabat publik, tetapi juga warga biasa. Bahkan, dari total 332 korban itu, mayoritas adalah warga biasa. “Pasal-pasal tersebut yang kami nilai dalam prakteknya mengalami masalah. Tidak jarang digunakan sebagai alat membungkam nalar kritis dari masyarakat yang menyampaikan aspirasi mengenai kebijakan yang melanggar demokrasi,” tambah Rasid. Koordinator Pokja 30, Buyung Marajo, menambahkan regulasi ini dikhawatirkan masih akan dimanfaatkan pemerintah membungkam dan mengancam masyarakat dengan alasan pencemaran nama dan hasutan kebencian. “Percuma ada keterwakilan masyarakat di Senayan, tapi tidak pernah melibatkan masyarakat untuk mengambil keputusan,” ujar Buyung. Kekhawatiran itu juga dilontarkan delegasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Samarinda, Yudha Almerio. AJI Samarinda menilai pasal-pasal karet tersebut turut mencendarai profesi jurnalis. “Nulis berita sedikit, dibilang hoaks. Kita kan bekerja secara kode etik padahal,” kata Yudha. Dari beberapa alasan ini lah, KMSK menuntut menghentikan pengesahan revisi UU ITE yang saat ini sedang berlangsung di DPR RI, cabut. Atau hapus pasal-pasal bermasalah dari UU ITE yang rentan mengkriminalkan banyak orang dan mencendarai alam demokrasi dan kelompok rentan. Serta, proses revisi UU ITE kedua di DPR RI harus melibatkan masyarakat sipil. (*/sal/boy) Reporter: Salasmita
Tak Direvisi, Pasel Karet Rawan Disalahgunakan
Sabtu 15-07-2023,12:07 WIB
Reporter : Rudi Agung
Editor : Rudi Agung
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 03-08-2026,06:03 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 3 Agustus 2026, Cek di Sini!
Senin 03-08-2026,07:03 WIB
APBD Kaltim Tertekan, Anggaran GratisPol Rp981 Miliar Dipastikan Tak Dipangkas
Minggu 02-08-2026,22:11 WIB
Serangan Udara Israel di Jalur Gaza Tewaskan 8 Warga Palestina
Senin 03-08-2026,08:31 WIB
ASN Pemkot Samarinda Keluyuran Saat Jam Kerja, Karier Bisa Terhambat 5 Tahun
Minggu 02-08-2026,22:45 WIB
Pelatih Vietnam Target 3 Poin Lawan Indonesia pada Laga Ketiga Grup A Piala AFF 2026
Terkini
Senin 03-08-2026,21:35 WIB
Jejak Admin Akun Anonim yang Diduga Memeras Dirut PT PSE di Bontang sudah Terlacak
Senin 03-08-2026,21:06 WIB
Pemkot Balikpapan Ajak Semarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Berikut Link Unduh Logo Resmi!
Senin 03-08-2026,20:35 WIB
Serapan Anggaran Disorot, Wakil Bupati Mahulu Minta OPD Gerak Cepat
Senin 03-08-2026,20:05 WIB
202 Koperasi Plasma Sawit di Kutim Diaudit, Target Pertama yang Banyak Diadukan
Senin 03-08-2026,19:35 WIB