Paser, nomorsatukaltim.com - Adanya kebijakan Pemerintah Pusat yang menerbitkan aturan larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO), berdampak pada turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. Kondisi ini menjadi perhatian serius DPRD Paser. Agar petani kelapa sawit tidak terkena imbas. Menjalin kemitraan antara petani dengan perusahaan menjadi Opsi yang ditawarkan. Seperti yang dikatakan Ketua DPRD Paser, Hendra Wahyudi. Menurutnya opsi tersebut bisa menjadi solusi konkret atas kekhawatiran terhadap kepastian pasar. Khususnya bagi petani maupun kelompok tani dalam menjual kelapa sawit. "Kebijakan larangan ekspor itu tentu berdampak pada kekhawatiran anjloknya harga TBS. Sehingga dinas terkait harus memikirkan solusinya, agar petani sawit tidak merugi,. Paling tepat ya bermitra," kata Hendra, ketika dikonfirmasi via seluler pada Jumat (6/5). Dengan kemitraan lanjut Hendra, petani bisa langsung menjual produksinya ke Pabrik Kepala Sawit (PKS) dengan harga sesuai ketetapan pemerintah. Tentunya itu dinilai akan lebih membuat kondisi lebih stabil jika dibanding secara mandiri menyesuaikan harga pasar. Sebab lanjut Hendra, dampak terjadinya larangan bahan baku non migas ini, diperkirakan membuat kebutuhan kelapa sawit melimpah. jika melimpah, tentu akan berimbas pada jatuhnya harga TBS kelapa sawit. Dan berpotensi menjadikan TBS tidak laku dijual ke PKS. "Ini pastinya akan membuat busuk hasil produksi petani dan menimbulkan kerugian bagi petani. Sementara kalau bermitra stabil-stabil saja harganya, karena jelas harganya mengikuti anjuran pemerintah," sambungnya. Selain itu lanjut Hendra, jika merujuk pada Peraturan Kementerian Pertanian (Permentan) Nomor 01 Tahun 2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian TBS Produksi Pekebun, memang tekah diisyaratkan dalam peraturan tersebut mengenai perlunya petani difasilitasi kemitraan. Fasilitasi kemitraan itu antara kelembagaan tani dengan PKS. Sehingga petani harus tergabung dalam kelompok tani atau mempunyai kelembagaan tani. Meski telah terdapat kelembagaan itu di Kabupaten Paser, namun Hendra menyebut belum secara menyeluruh. "Petani sawit agar mau segera berlembaga agar bisa dilakukan kemitraan dengan PKS terdekat. Dengan begitu petani terlindungi serta tidak akan berdampak pada penghentian ekspor tersebut," tutup Hendra. (adv/asa)
Soal Harga TBS, DPRD Beri Opsi Kemitraan
Jumat 06-05-2022,21:48 WIB
Reporter : Iklan Marketing
Editor : Iklan Marketing
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 06-03-2026,14:14 WIB
Tren Pembelian Mobil Menurun, Daihatsu Dorong Kenaikan Penjualan Lewat Produk Rocky Hybrid Terbaru
Jumat 06-03-2026,15:40 WIB
Dinkes Kutim Temukan Produk Kedaluwarsa dan Takjil Diduga Gunakan Pewarna Berbahaya
Jumat 06-03-2026,13:29 WIB
Pemkab Kutim Berencana Bangun Gudang Bulog Berkapasitas 3.500 Ton untuk Tampung Hasil Panen
Jumat 06-03-2026,21:44 WIB
Mulai 1 April 2026, Anak Usia di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos
Jumat 06-03-2026,20:04 WIB
Paripurna Penyampaian Nota Pengantar RPJMD 2025-2029, DPRD Mahulu: Ini Jadi Pedoman Pembangunan Masa Depan
Terkini
Sabtu 07-03-2026,13:01 WIB
Wali Kota Balikpapan Imbau Warga Tak Panic Buying BBM dan Sembako
Sabtu 07-03-2026,12:04 WIB
Harga Emas Hari Ini, 7 Maret 2026: Antam Meroket, UBS dan Galeri24 Kompak Turun
Sabtu 07-03-2026,11:01 WIB
Manajemen Borneo FC Sesalkan Penunjukan Wasit Yudi Nurcahya dalam Laga Kontra Persebaya
Sabtu 07-03-2026,11:00 WIB
DPC Gerindra Bontang Satukan Barisan, Kawal Neni-Agus hingga Akhir Periode
Sabtu 07-03-2026,10:32 WIB