Samarinda, nomorsatukaltim.com – Angka dana bagi hasil (DBH) Migas Kaltim terus turun. Pemprov Kaltim harus segera mencari alternatif pendapatan lain. Hilirisasi industri adalah kuncinya. Penegasan itu disampaikan Pengamat Ekonomi Fekon Unmul Aji Sofyan Effendi. Dengan turunnya DBH itu, Pemprov Kaltim harusnya sadar agar tidak terlalu berharap pada sumber daya alam (SDA) dalam mencari pemasukan bagi daerah. Justru turunnya DBH Migas ini harus dijadikan momentum bagi Pemprov, untuk merancang blue print pembangunan yang baru. Yaitu pembangunan yang mengedepankan energi baru terbarukan (EBT). “Harus ada road map atau blue print industri hilir berbasis EBT,” tegasnya saat dikonfirmasi nomorsatukaltim.com - Disway National Network (DNN), Jumat (18/2/2022). Selain itu, Pemprov juga harus memiliki pencapaian target pembangunan. Agar penggunaan hasil SDA bisa digunakan kembali untuk melakukan recovery pembangunan. Salah satunya membentuk industri hilir berbasis EBT. Pembangunan jangka panjang seperti ini harusnya juga dipikirkan oleh pemerintah. Pendapatannya bisa kontinyu atau berkelanjutan. Tidak instan, berjangka pendek, dan insindental seperti sekarang. Aji mencontohkan hilirisasi kelapa sawit misalnya. Semestinya saat ini Kaltim sudah memiliki pabrik pengolahan crude palm oil (CPO). Untuk batu bara Kaltim seharusnya sudah mempunyai smelter sendiri. Sama halnya dengan migas, sudah harus ada industri hilir atau penunjangnya. Semua itu berbasis ekspor. Sayangnya rencana itu tidak pernah dilakukan pemprov. “Bukan belum jalan, tapi tidak ada. Nihil. Akhirnya ya, kita hanya berharap DBH SDA yang setiap tahun turun terus,” singgungnya. Ia sangat menyayangkan, apalagi dengan adanya ibu kota negara (IKN), Pemprov justru terlihat semakin menunjukan ketidaksiapannya membuat proyek-proyek penunjang. Kawasan industri tidak sepenuhnya jalan. Mulai dari kawasan industri Kariangau-Buluminung di Teluk Balikpapan; kawasan industri dan pelabuhan (KIPI) Maloy di Kutim; dan kawasan Danau Semayang, Danau Jempang dan sekitarnya di Kukar-Kubar. “Mestinya kawasan industri sudah mencapai starting point 50 persen dari seluruh program. Ini belum ada. Gregetan kan kita jadinya.” Karena itu konversi ekonomi berbasis SDA menjadi EBT mutlak diperlukan. Memang berat dan tidak semudah membalikan telapak tangan. Karena rata-rata pengusaha lebih memilih industri hulu. Cost lebih murah dari pada berinvestasi pada sektor hilir. Tapi pemerintah punya keweangan mengintervensi. Agar pengusaha juga mau berinvestasi pada sektor hilirisasi. “Kalau negara lain bisa kenapa kita tidak,” tutup guru besar Fekon Unmul ini. (boy/zul)
DBH Migas Kaltim Turun Terus, Pengamat: Pemprov Harus Beralih Ke Energi Baru
Jumat 18-02-2022,19:44 WIB
Reporter : bayong
Editor : bayong
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 11-03-2026,10:30 WIB
Bahlil Sebut Pembebasan 2 Kapal Pertamina di Selat Hormuz Segera Tuntas
Rabu 11-03-2026,07:00 WIB
Mulai 1 April, Mobil di Samarinda Tak Bebas Beli Pertalite dan Biosolar
Rabu 11-03-2026,06:00 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 11 Maret 2026, Cek di Sini!
Rabu 11-03-2026,10:01 WIB
RSUD Kudungga Manfaatkan Ruang Tunggu untuk Edukasi Hak Anak bagi Pengunjung
Rabu 11-03-2026,08:31 WIB
Polsek Loa Kulu Bongkar Jaringan Ganja 3 Kg, Tangkap 5 Orang Termasuk WNA Afghanistan
Terkini
Rabu 11-03-2026,22:41 WIB
Pria Ngamuk di PN Tanjung Redeb Berau: Diduga Tak Terima Putusan Perkara 15 Tahun Lalu
Rabu 11-03-2026,22:10 WIB
Pastikan Pembagian Lapak Pasar Pagi Tahap 4 Adil, Disdag Samarinda Sebut Patuhi Instruksi Wali Kota
Rabu 11-03-2026,21:46 WIB
Mobil Dinas Gubernur Kaltim Resmi Dikembalikan ke Pihak CV Afisera, Dana Rp7,5 Miliar Masuk Kas Daerah
Rabu 11-03-2026,21:21 WIB