Paser, nomorsatukaltim.com - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Prima Jaya Taka, terlilit utang. Tak tanggung-tanggung nominalnya mencapai belasan miliar. Telah berjalan beberapa tahun lamanya atau sebelum 2018. Direktur Perumda Prima Jaya Taka, Saiful Bahri, mengatakan utang itu telah ada sebelum ia menjabat pada 2018 lalu. Dalam artian 'warisan' terdahulu. Nilai yang harus dilunasi ini mencapai Rp 19 miliar. "Saat ini utang kami sisa Rp 16 miliar dari yang sebelumnya Rp 19 miliar," kata Saiful Bahri, kepada nomorsatukaltim.com - Disway News Network (DNN), beberapa waktu lalu. Utang yang dimiliki perusahaan pelat merah Kabupaten Paser ini, di antaranya pinjaman ke PT Bankaltimtara senilai Rp 1,7 miliar, pembibitan sawit Rp 1,9 miliar, gaji karyawan Rp 4 miliar dan pajak Rp 6,5 miliar. "Kemudian utang dengan investor. Karena (sebelumnya) kita tidak ada modal, terpaksa investor menalangi dulu perizinan dan sebagainya," sambungnya. Ia bilang pinjamannya bukan berupa fisik uang langsung. Melainkan segala sesuatu perizinan dibayarkan lebih dulu oleh investor. Jika telah rampung semua dan pada saat produksi nanti barulah dibayarkan dengan keuntungan yang didapat Perumda Prima Jaya Taka. "Bukan uang gelondongan (nominal besar), enggak berani juga kami. Ada juga yang langsung gelondongan (dari pihak lain, Red) tapi kan terdaftar dalam rekening perumda, resmi. Jadi saat pemeriksaaan dan segalanya tujuannya jelas," urai Saiful. Dari utang Rp 19 miliar sekarang turun menjadi Rp 16 miliar, dibeberkan Saiful beberapa kebijakan harus dilakukan sejak ia menjabat. Di antaranya melakukan perampingan karyawan, sebelumnya 55 orang, kini tersisa 13 orang saja. Hal ini dinilai cukup efektif untuk mengurangi beban utang yang ditanggung perusahaan. "Pelan-pelan utang (nominalnya) sudah turun, karyawan kami pangkas, dan BPJS kami bayarin. Utang terbesar di pajak Rp 6,5 miliar," sebutnya. Salah satu upaya untuk melunasi utang didapati dari hasil berbagai usaha yang dikerjakan. Di antaranya stone crusher atau pemecah batu, asphalt mixing plant (AMP), dan pupuk. Ia mengklaim jika pendapatan yang diperoleh habis untuk membayar utang. "Seandainya tidak ada utang, kita (Perumda Prima Jaya Taka) sudah makmur. Bayangkan saja, Rp 700 jutaan kami bayarkan tahun ini. Ya rata-rata pendapatan habis bayar utang," aku Saiful. Meski memiliki beban utang belasan miliar, disebutkannya jika Perumda Prima Jaya Taka pada 2021 lalu masih bisa menyetorkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Paser senilai Rp 100 juta. PAD yang diperoleh dari Perumda tidak lepas dari berbagai usaha yang dikerjakan seperti stone crusher, AMP, pupuk dan sebagainya. "Kami buktikan, tidak menghabiskan uang. Malah memberikan uang (setor PAD)," pungkasnya. (asa/eny)
Perumda Prima Jaya Taka Paser Terlilit Utang Belasan Miliar
Selasa 08-02-2022,14:31 WIB
Reporter : Achmad Syamsir Awal
Editor : Achmad Syamsir Awal
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 05-10-2026,06:00 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 5 Oktober 2026, BMKG Terbitkan Peringatan Dini!
Senin 05-10-2026,07:00 WIB
Pertamina Catat Konsumsi Pertamax Turun 21,9 Persen di Kaltim, Dexlite Anjlok 39,5 Persen
Senin 05-10-2026,09:00 WIB
Musim Kemarau Jadi Peluang Ekonomi Bagi Taksi Ces di Wilayah Hulu Mahakam
Senin 05-10-2026,08:31 WIB
Aji Sofyan: Jangan Salahkan Pergeseran Konsumen, Kuota BBM Kaltim Wajib Dipenuhi!
Senin 05-10-2026,12:00 WIB
Kondisi Ole Romeny Masih Tanda Tanya Jelang Final FIFA ASEAN Cup 2026
Terkini
Senin 05-10-2026,23:54 WIB
Sejumlah Barang Mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong Dipindah ke Bekas Kandang Sapi
Senin 05-10-2026,23:34 WIB
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Kalahkan Thailand Lewat Adu Penalti dengan Skor 6-4
Senin 05-10-2026,22:40 WIB
Jelang MotoGP Indonesia 2026, Alex Marquez Sebut Tak Ada Persiapan Khusus
Senin 05-10-2026,22:08 WIB
Pajak Reklame sudah Berjalan di Tengah Proses Perizinan, DPRD Samarinda Cari Formula Baru
Senin 05-10-2026,21:37 WIB