Pasak Pendek

Kamis 12-11-2020,06:53 WIB
Reporter : Disway Kaltim Group
Editor : Disway Kaltim Group

VONY yakin suaminyi meninggal karena stres berat. Itulah nasib ilmuwan penemu konstruksi sarang laba-laba, Ir Ryantori.
Ia sedang diadili di Pengadilan Negeri Sidoarjo. Ia jadi tersangka dalam perkara pidana pemalsuan hak paten penemuannya sendiri.

Hari itu, seminggu yang lalu, Ryantori menjalani persidangan itu. Pulang dari pengadilan badannya lemas. Vonny minta Ryantori ke dokter. Tidak mau. Ia merasa tidak sakit apa-apa. Hanya merasa ngantuk yang berkepanjangan.

Anak laki-lakinya yang di Amerika memaksanya untuk periksa darah. Juga tidak mau. Badannya terasa lemah.
Sang anak menghubungi kakak  perempuannya yang tinggal serumah dengan orang tua mereka. “Panggil petugas lab ke rumah. Papa tidak harus pergi ke lab sendiri,” ujar sang adik lewat telepon dari Amerika Serikat.

Ryantori memang hanya punya dua anak itu. Yang wanita jadi pelatih pilates di Surabaya. Yang laki-laki sudah 10 tahun bekerja di dekat Chicago —sebagai pendesain perhiasan.

Dari pemeriksaan darah itu mereka kaget: gula darah Ryantori tinggi. Padahal biasanya gula darahnya selalu normal. “Selalu lebih baik dari saya,” ujar Vonny.

Keesokan harinya, Ryantori sudah tidak bisa bicara. Lalu dibawa ke rumah sakit Adi Husada Surabaya —yang memang tidak jauh dari rumahnya.

Alumnus fakultas teknik sipil ITS Surabaya itu, Ryantori, meninggal dunia.
Saya masih wartawan muda ketika Ryantori-muda menemukan konstruksi sarang laba-laba. Umurnya hanya satu tahun di atas saya. Saya mewawancarainya. Yakni untuk melengkapi wawancara sebelumnya oleh teman saya sesama wartawan TEMPO. Tulisan kami tentang Ryantori itu pun dimuat di majalah TEMPO.

Itulah sistem konstruksi yang tidak memerlukan tiang pancang. Bisa menghemat biaya. Juga lebih tahan gempa. Cocok untuk wilayah seperti Indonesia.
Waktu itu dua insinyur muda lagi bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Perusahaan itu mendapat proyek membangun gedung di daerah Tanjung Perak. Tanahnya sangat lembek. Kalau pakai tiang pancang  biayanya sangat mahal.

Dua insinyur itu mendiskusikannya: Ir Ryantori dan Ir Soetjipto. Sama-sama lulusan teknik sipil ITS. Soetjipto lantas dikenal sebagai aktivis andal PDI Perjuangan. Ia menjadi Ketua DPD PDI Jatim. Lalu jadi anggota DPR. Jadi Sekjen DPP-PDI Perjuangan. Ia sangat fanatik pada Bu Mega.

Kini anak Soetjipto itu, Whisnu Sakti Buana, jadi wakil wali kota Surabaya —tapi gagal jadi cawali dari partainya di Pilkada sebentar lagi.

Ryantori terus di jalur konstruksi.
Awalnya tentu sulit  meyakinkan orang untuk menggunakan konstruksi temuannya itu. Pemilik proyek biasanya tidak mau ambil risiko: pakai cara lama saja yang sudah pasti aman.

Intinya: konstruksi tanpa tiang pancang ini menggunakan ‘lantai cor secara khusus. Disebut sebagai konstruksi sarang laba-laba.

Yakni bentuk lantai itu dibuat segi tiga kecil-kecil saling terkait di sudut-sudutnya.
Dengan demikian ‘lantai seluas bangunan itu tidak mungkin turun —biar pun sebagian tanah di bawah bangunan itu mengalami penurunan. “Kalau toh turun akan turun bersama-sama,” ujar Ryantori saat itu.

Akhirnya Ryantori-Soetjipto setuju ‘menjual penemuan ini ke sebuah perusahaan konstruksi. Mereka berdua akan mendapat fee dari setiap proyek yang menggunakan sarang laba-laba. Persentasenya tidak perlu saya sebut di sini.

Saya sendiri ketika akhirnya membangun banyak gedung dan pabrik, tidak berani menggunakan sarang laba-laba.
Dalam hati kecil saya ingin sekali. Kan saya yang ikut mempromosikannya. Tapi saya selalu kalah argumen dengan konsultan saya. Maklum, saya tidak punya dasar ilmu teknik sipil —dan teknik apa pun, kecuali teknik menulis.

Itu karena sang konsultan mengemukakan beberapa kelemahan sistem itu. Termasuk adanya laporan terjadi kemiringan di beberapa proyek. Tapi biaya konstruksi ini memang jauh lebih murah. Banyak yang lebih pemberani dari saya.

Tags :
Kategori :

Terkait