Bankaltimtara

Harga Cabai di Pasar Induk Sangatta Turun, Kedelai Justru Naik

Harga Cabai di Pasar Induk Sangatta Turun, Kedelai Justru Naik

Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Induk Sangatta.-Sakiya/Disway Kaltim-

​KUTIM, NOMORSATUKALTIM – Pergerakan harga bahan pangan di Pasar Induk Sangatta, menunjukkan kondisi berbeda. 

Saat harga cabai mulai menurun, pedagang tempe dan tahu justru masih menghadapi kenaikan biaya produksi akibat mahalnya harga kedelai.

Kondisi tersebut membuat pedagang harus mencari cara agar harga jual tetap terjangkau bagi masyarakat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengurangi ukuran maupun berat produk, tanpa mengubah harga yang selama ini dibayarkan konsumen.

Mama Affan (bukan nama sebenarnya), salah seorang pedagang tempe dan tahu di Pasar Induk Sangatta, mengungkapkan penyesuaian ukuran menjadi pilihan untuk menyiasati meningkatnya biaya bahan baku.

BACA JUGA:Proyek Drainase Yos Sudarso-Gajah Mada Berlangsung 413 Hari, Perumdam Kutim Siaga Lindungi Pipa Air

“Kalau harga jualnya masih sama, cuma ukurannya yang berbeda. Ukurannya paling dikurangi,” ungkapnya, Minggu 1 November 2026.

Dia menjelaskan, tekanan kenaikan harga kedelai sebenarnya sudah dirasakan sejak awal tahun. 

Namun, peningkatan biaya tersebut kembali terjadi pada bulan lalu meskipun berlangsung secara bertahap.

Menurutnya, perubahan harga yang terjadi sedikit demi sedikit membuat pedagang harus menyesuaikan pengeluaran agar kegiatan berjualan tetap berjalan.

“Sejak awal tahun itu sudah naik. Bulan lalu naik lagi, tapi pelan-pelan. Dari Rp 3 ribu, terus Rp5 ribu, sekarang ini sudah Rp10 ribu naiknya per karung,” jelasnya.

BACA JUGA:Realisasi Anggaran Kutim Baru 43 Persen, Sekda Minta SKPD Percepat Penyelesaian Program

Kenaikan harga kedelai tersebut turut dikaitkan pedagang dengan pergerakan nilai tukar dolar yang berpengaruh terhadap biaya pengadaan bahan baku.

Di tengah kondisi itu, pedagang belum berani menaikkan harga tempe dan tahu. 

Mereka mempertimbangkan kemampuan belanja masyarakat sehingga memilih mempertahankan nominal penjualan meskipun harus mengurangi isi produk.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: