IHSG Merosot Gara-Gara Investor Asing Cuci Gudang
IHSG merosot karena investor asing cuci gudang.-IHSG-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Melanjutkan keterpurukannya di pembukaan perdagangan Jumat 16 Oktober 2026 pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini turut menutup sesi I perdagangannya dengan merosot tajam di kisaran 5.000.
Dalam hal ini, IHSG terpantau menutup sesi I dengan ambruk tajam hingga sebanyak 630,78 poin, atau setara 10,76 persen ke level 5.233,00.
Di sisi lain, hal serupa pun juga terjadi kepada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45, yang turut kembali terpuruk di sesi I ini.
Dalam hal ini, Indeks LQ45 terpantau bergerak melemah sebanyak 70,69 poin, atau menurun sebesar 11,98 persen ke level 519,40.
BACA JUGA:IHSG Anjlok dan Rupiah Tertekan, Sentimen Global Bayangi Pasar Keuangan RI
Sempat Trading Halt
Sebelumnya, IHSG sendiri sempat mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt setelah terpuruk tajam hingga menyentuh level 5.205,42 di waktu pagi ini.
Jumlah ini sendiri diketahui jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan level pada penutupan sesi perdagangan Kamis sore lalu, yang mengakhiri perdagangannya di kisaran level 5.863,78.
Sementara itu di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan USD dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut.
Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28 persen secara quarter-to-date (QTD).
Tidak hanya itu, cadangan devisa juga tetap terjaga sebesar USD 146,3 miliar pada akhir September 2026.
Pasar saham Indonesia dibuka dan ditutup dengan sentimen negatif di tengah tekanan global.
Investor disarankan memantau pergerakan harga saham secara ketat sebelum mengambil keputusan investasi.
BACA JUGA:Pertumbuhan Ekonomi DIY Capai 5,75 Persen, Dahlan Iskan Bicara Strategi Bisnis di Era Perubahan
Investor Asing Cuma Cuci Gudang
Di tengah kepanikan tersebut, beredar rumor liar di kalangan investor ritel bahwa kejatuhan ini disebabkan oleh denda atau sanksi triliunan rupiah dari MSCI (lembaga pemeringkat indeks global), kepada emiten terkait.
Namun, benarkah demikian?
Menurut analis dan influencer pasar modal, Bennix, dalam kanal youtube nya ia menegaskan bahwa narasi "denda MSCI" adalah hoaks yang sama sekali tidak berdasar.
Menurutnya, MSCI cuma sebagai pembuat indeks. Sayangnya pasar saat ini justru menganggap MSCI memiliki wewenang hukum layaknya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Bursa Efek Indonesia (BEI).
Padahal, MSCI hanya lembaga riset internasional yang menyusun katalog saham atau indeks.
"Mereka tidak punya hak untuk memidanakan, mendenda, atau mencabut izin operasional sebuah perusahaan," sebut Bennix.
Jika bukan karena sanksi, apa yang membuat saham raksasa tersebut dikeluarkan dari MSCI hingga harganya hancur?
BACA JUGA:B50 Bikin Hemat Devisa Rp170 Triliun, Sawit Jadi Tulang Punggung Energi Nasional
Jawabannya ada pada aturan Free Float, atau jumlah saham yang benar-benar beredar bebas dan bisa ditransaksikan oleh publik.
MSCI saat ini sangat ketat dalam menilai likuiditas. Jika sebuah saham raksasa sebagian besar kepemilikannya dikunci oleh segelintir pihak dan saham publiknya terlalu sedikit, MSCI akan menilainya sebagai investasi yang berisiko bagi pemodal asing. Akibatnya, saham tersebut ditendang dari Indeks MSCI Global.
Efek Domino: Cuci Gudang Asing Menyeret IHSG
Akibat cuci gudang tersebut, berimbas pada nilai IHSG pada Jumat 16 Oktober 2026 pagi ini.
Ketika sebuah saham resmi dikeluarkan dari indeks MSCI, pengelola dana global (fund manager) yang selama ini berpatokan pada indeks tersebut otomatis melakukan forced selling (jual paksa). Mereka harus membuang saham tersebut dari portofolio mereka secara serentak.
Karena saham yang dibuang ini memiliki ukuran kapitalisasi yang sangat jumbo (berpengaruh besar terhadap bobot bursa), kejatuhannya langsung menyeret angka IHSG ke zona merah.
Kondisi ini kemudian memicu kepanikan investor lokal yang ikut-ikutan melakukan aksi jual (panic selling).
BACA JUGA:Perpres Ojol Terbit, Atur Biaya Aplikasi Maksimal 8 Persen hingga Perlindungan Driver
Kini, saham raksasa yang sempat menyentuh harga fantastis tersebut telah anjlok hingga kisaran Rp 2.400. Banyak investor ritel lokal yang tergiur masuk karena harga tersebut terbilang diskon atau murah.
Namun, Bennix memberikan peringatan keras.
"Harga Rp 2.400 masih tergolong sangat mahal (overprice). Tanpa adanya arus dana raksasa dari asing, sangat sulit mengangkat kembali harga saham tersebut.
Secara hitungan valuasi yang lebih realistis, harga saham mungkin bisa merosot sampai level Rp 1.200 pada pertengahan 2027 mendatang," ulasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
