Iran Siap Berdamai Buka Selat Hormuz, Tapi Trump Menolak, Lanjut Perang?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi saat hadir di New York.-istimewa-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Presiden AS Donald Trump menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Sehingga meredupkan harapan akan terobosan yang dapat meredakan gangguan terhadap arus energi global.
"Mereka mengajukan usulan, tetapi saya menolaknya," ujar Trump kepada para wartawan di luar Gedung Putih sebelum bertolak ke Tennessee dilansir dari laman investing Minggu (27/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan baru ke arah Arab Saudi.
BACA JUGA:Indonesia Bidik Kursi DK PBB 2029–2030, 4 Poin Ini Jadi Prioritas
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua pesawat nirawak (drone) yang mengarah ke Riyadh serta sebuah rudal balistik yang diluncurkan ke arah Khamis Mushait di wilayah barat daya Arab Saudi.
Iran sebelumnya menawarkan untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut, dan melanjutkan perundingan mengenai program nuklirnya jika Washington mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, melonggarkan sanksi minyak, dan menyetujui gencatan senjata, termasuk di Lebanon.
BACA JUGA:Xi Jinping Siap Stabilkan Hubungan China-AS, Persaingan Perlu Dijaga agar Tetap Sehat
Iran mengusulkan proposal gencatan senjata untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang di Timur Tengah (Timteng). Namun, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dilaporkan telah menolak tawaran tersebut dan membuka peluang untuk kembali menyerang Iran.
Proposal itu disampaikan Iran dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS. Rencana tersebut dikirimkan kepada pemerintah AS melalui mediator Qatar dan menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu serta penghentian permusuhan di kawasan dalam waktu tujuh hari.
BACA JUGA:Ditinggal Walk Out Saat Akan Pidato, Netanyahu Ledek Peserta Sidang PBB
Wall Street Journal (WSJ) pada Sabtu (26/9/2026) melaporkan bahwa Trump skeptis terhadap proposal tersebut.
Mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, Trump bahkan disebut memprediksi kampanye serangan udara terhadap Iran dapat kembali dilakukan setelah pemilihan umum sela AS pada November mendatang.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menjelaskan proposal tersebut kepada wartawan pada Jumat (25/9/2026). Dia mengatakan Iran siap kembali melanjutkan perundingan dengan AS mengenai program nuklirnya.
"Jangka waktu tujuh hari akan dimulai segera setelah Amerika Serikat menerima rencana ini," ujarnya.
Araghchi mengatakan langkah awal dalam proposal tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 4-5 hari, sedangkan Selat Hormuz akan dibuka pada hari keenam. Pada hari ketujuh, perundingan dengan AS mengenai kesepakatan akhir terkait isu-isu yang disepakati bersama akan dimulai.
"Jika ada keseriusan dari pihak AS untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, semuanya sudah siap," kata Araghchi.
Iran juga telah melakukan pembicaraan dengan Arab Saudi terkait Selat Hormuz.
Jalur tersebut menjadi salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia dan telah terganggu akibat konflik yang berlangsung selama tujuh bulan, sehingga berdampak terhadap pasokan minyak dan perekonomian global.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan, Teheran siap berunding mengenai program nuklir dan isu lainnya, tetapi menolak tekanan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
