Bankaltimtara

Pasar Tumpah Pringgondani di Teritip Balikpapan Timur, Transaksi Unik Memakai Uang Kayu Dilengkapi Barcode

Pasar Tumpah Pringgondani di Teritip Balikpapan Timur, Transaksi Unik Memakai Uang Kayu Dilengkapi Barcode

Pasar Tumpah Pringgodani di Teritip, Balikpapan Timur.-Awal/Nomorsatukaltim-

BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Sebelum matahari genap menyinari kawasan Teritip, Balikpapan alunan gamelan Jawa sudah membelah keheningan hutan tropis Kalimantan.

Udara dingin bercampur aroma sangrai kopi dan rempah pecel menyambut orang-orang yang berderet rapi di gerbang kayu.

Di sini, di Jalan Gunung Binjai, Balikpapan Timur, sebuah lorong waktu budaya tercipta melalui Pasar Tumpah Pringgondani.

Nama Pringgondani bukan lahir tanpa makna. Dalam epik Mahabarata, Pringgondani adalah kerajaan yang dipimpin oleh Ksatria Gatotkaca, putra Bima.

BACA JUGA: Perda Diubah, Perumda Manuntung Sukses Balikpapan Berencana Ekspansi Bisnis

Bagi Surata, sang pemilik sekaligus perintis lokasi itu, nama ini menyimpan resonansi personal yang mendalam.

“Selain karena kecintaan saya pada budaya pewayangan, Pringgondani juga diambil dari nama anak kedua saya, Satrio Pringgondani. Ada dua doa dan makna besar di dalamnya,” ungkap Surata.

Salah satu daya tarik paling fenomenal dari Pasar Tumpah Pringgondani adalah sistem transaksinya.

Pengunjung tidak diperkenankan bertransaksi menggunakan uang tunai biasa maupun dompet digital secara langsung, melainkan menggunakan uang kayu.

BACA JUGA: Sepanjang Januari-Agustus 2026 Terdapat 500 Pekerja di Balikpapan Terdampak PHK, Ini Kata Disnaker

Adapun detail inovasi uang kayu ini berbahan baku ulin khas Kalimantan. Nominal pecahan mulai Rp5 ribu hingga Rp20 ribu.

Surata mengatakan, uang kayu itu dirancang Himawan Wicaksono, dosen Institut Teknologi Kalimantan.

"Keamanan dilengkapi barcode khusus unik per lembar dan terdaftar hak paten. Peredaran harian menjangkau hingga Rp500 juta. Inovasi ini mengubah belanja jajanan tradisional, seperti cenil, dawet, hingga pecel ataupun lainnya menjadi pengalaman interaktif lintas zaman yang unik," sebutnya.

Pringgondani dibangun bukan hanya untuk nostalgia generasi sepuh. Pengelola memadukan konsep pasar tradisional dengan dinamika anak muda alias gen Z.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: