Bankaltimtara

48 Peserta UKW di Kaltim Dinyatakan Lulus, Refa: Kompeten Tak Berarti Bebas Melanggar

48 Peserta UKW di Kaltim Dinyatakan Lulus, Refa: Kompeten Tak Berarti Bebas Melanggar

Rangkaian agenda Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda. (-Chandra/ Disway Kaltim-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Sebanyak 48 wartawan dinyatakan berkompeten setelah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), yang digelar Lembaga Uji Kompetensi Pikiran Rakyat bersama PWI Kalimantan Timur dan didukung SKK Migas Kalsul.

UKW yang berlangsung pada 8-10 September 2026 di Samarinda, Kalimantan Timur tersebut diikuti 57 peserta dari total 60 peserta yang terdaftar. 

Dari jumlah peserta yang mengikuti ujian, 48 orang dinyatakan kompeten, sedangkan sembilan peserta lainnya dinyatakan belum kompeten.

Koordinator Pelaksana UKW, Wiwid Marhaendra Wijaya, mengatakan terdapat 60 peserta yang terdaftar dalam UKW tersebut. Namun, tiga peserta tidak mengikuti proses ujian.

BACA JUGA:Abdunnur Raih Suara Tertinggi Sementara Pilrek Unmul, Berikutnya Tunggu Suara dari Kementerian

“Jadi dari seluruh peserta, 48 dinyatakan kompeten. Sembilan peserta belum kompeten,” kata Wiwid, saat penutupan agenda di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, pada Kamis 10 September 2026.

Direktur Lembaga Uji Kompetensi Pikiran Rakyat, Refa Riana, mengatakan UKW merupakan salah satu upaya untuk melakukan standardisasi kompetensi wartawan.

Menurutnya, pelaksanaan UKW dari waktu ke waktu menunjukkan perkembangan. 

Ia menyebut kondisi kompetensi wartawan saat ini sudah semakin meningkat dibandingkan saat UKW pertama kali dilaksanakan pada 2012.

BACA JUGA:TPP Belum Cair Sejak Juni, Pegawai RSUD AWS Gelar Aksi Damai

“UKW ini sebetulnya untuk upaya melakukan standarisasi. Ketika sebelum pelaksanaan awal 2012, pertama UKW itu sangat jomplang. Tapi sekarang sudah semakin meningkat,” ujarnya.

Refa juga menyoroti masih banyaknya media online yang belum terverifikasi. 

Ia menyebut terdapat sekitar 50 ribu media online, sementara yang terverifikasi hanya sekitar 1.000 media.

“1.000 banding 50.000 itu sangat jauh,” katanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: