Jembatan Lembak Kembali Ambles, Warga Khawatir Akses Lima Kecamatan Terputus
Kondisi Jembatan Lembak di Kecamatan Bengalon, Kutim yang mengalami kerusakan parah pada bagian struktur dan badan jalan.-Istimewa-
KUTAI TIMUR, NOMORSATUKALTIM – Kondisi Jembatan Lembak yang berada di ruas jalan nasional antara Desa Sepaso Timur dan Desa Sepaso, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim), kembali mengundang perhatian warga.
Badan jalan di sekitar jembatan mengalami penurunan cukup dalam sehingga dikhawatirkan mengganggu keselamatan pengguna jalan.
Kerusakan tersebut terlihat pada bagian pertemuan antara badan jalan dan struktur jembatan. Permukaan jalan dilaporkan turun hingga sekitar 50 sentimeter, menciptakan perbedaan ketinggian yang cukup signifikan bagi kendaraan yang melintas.
Warga Bengalon, Afi, mengatakan kondisi itu bukan pertama kali terjadi. Menurutnya, kerusakan di kawasan Jembatan Lembak sebelumnya juga sempat menjadi perhatian masyarakat karena terus mengalami penurunan.
“Sudah beberapa kali menjadi perhatian karena jembatan itu retak dan bagian jalannya turun,” ujar Afi, Jumat (7/8/2026).
BACA JUGA:Kutim Jadi Percontohan, Klinik Masyarakat Hukum Adat Kaltim Mulai Beroperasi dari Wehea
Ia menyebut upaya penanganan sempat dilakukan sekitar sebulan lalu. Saat itu, bagian jalan yang mengalami penurunan ditimbun agar kembali rata dengan permukaan jalan.
Namun, perbaikan tersebut dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan. Dalam waktu relatif singkat, badan jalan kembali mengalami penurunan dan kondisinya justru terlihat lebih parah dibanding sebelumnya.
“Sekitar sebulan lalu sudah ditambal, tetapi sifatnya hanya sementara. Sekarang turun lagi dan lebih parah,” katanya.
Menurut Afi, posisi Jembatan Lembak sangat strategis karena berada pada jalur utama yang menghubungkan Bengalon dengan sejumlah wilayah di pesisir utara Kutim.
BACA JUGA:Latihan Hanya Dua Pekan, 36 Calon Paskibraka Kutim Siap Tampil Maksimal saat HUT RI
Jalur tersebut menjadi akses masyarakat menuju Kecamatan Kaubun, Kaliorang, Sangkulirang, Karangan dan Sandaran. Selain itu, ruas jalan tersebut juga menjadi salah satu akses darat menuju Kabupaten Berau.
Karena itu, kerusakan pada titik tersebut tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pengguna jalan, tetapi juga berpotensi menghambat aktivitas ekonomi apabila kondisi jembatan semakin memburuk.
“Ini jalur utama. Kalau sampai jembatannya tidak bisa dilewati, aktivitas masyarakat dan pengiriman barang pasti terganggu,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
