Usai Santap Menu Pentol, Puluhan Siswa di Sebulu Keracunan MBG
Para siswa yang diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG diperiksa di Puskesmas Sebulu, Kukar, Senin (3/8/2026).-istimewa-
KUTAI KARTANEGARA, NOMORSATUKALTIM– Jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, terus bertambah.
Hingga Senin, 3 Agustus 2026 sore, tercatat sebanyak 53 siswa SD, MI dan MTs di wilayah Sebulu mengalami keluhan dan mendapatkan penanganan medis.
Kepala Puskesmas Sebulu, Abdullah Ramli mengatakan, sebelumnya jumlah siswa yang terdampak tercatat sebanyak 46 orang pada siang hari.
Namun, berdasarkan perkembangan laporan, angka tersebut meningkat menjadi 53 orang dan masih berpotensi bertambah.
BACA JUGA: Pusdiksi Unmul Tegaskan DPR dan Pemerintah Jangan Licik Demi Akali Anggaran MBG
"Data siang tadi 46, untuk sore sudah menjadi 53. Kemungkinan masih bertambah, tetapi kami belum bisa menyelesaikan rekapitulasinya," ucap Ramli, Senin, 3 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan makanan yang didistribusikan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG ke sejumlah sekolah di Kecamatan Sebulu.
Namun, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Menurut Ramli, pihaknya telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para siswa untuk dilakukan pengujian di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) dan laboratorium milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
BACA JUGA: Publik Bisa Pantau Menu MBG Secara Online Mulai Pekan Depan
"Menunya seperti biasa dari MBG. Hari ini ada sayur dan pentol. Kami sudah mengambil sampel makanan. Dugaan sementara mungkin pada pentol, tetapi kepastiannya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," jelasnya.
Para siswa yang terdampak umumnya mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah, nyeri pada ulu hati, hingga tubuh terasa lemas. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan.
Ramli berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Ia mengaku telah menyampaikan masukan kepada Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kutai Kartanegara serta pengelola dapur SPPG agar memperketat pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan.
"Saya berharap setiap makanan yang akan dibagikan dipastikan benar-benar aman. Harus ada tester atau petugas yang mencicipi terlebih dahulu untuk memastikan makanan tidak bermasalah sebelum dibagikan secara massal," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
