180 Kasus HIV Ditemukan di Samarinda, Gay Masih Mendominasi
Ilustrasi.-Adobe Stock-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat 180 kasus baru HIV hingga Juni 2026.
Dari jumlah itu, kelompok lelaki suka lelaki (LSL) atau gay menjadi penyumbang terbesar berdasarkan hasil skrining yang dilakukan di lapangan.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih menyampaikan, kenaikan angka kasus tidak selalu berarti kondisi memburuk, karena bisa menunjukkan skrining berjalan lebih aktif dan penderita lebih cepat terdeteksi.
“Semakin cepat kita menemukan penderita melalui skrining, maka semakin cepat pula pengobatan dapat dilakukan. Jadi jangan dibalik pemahamannya. Ketika angka penderita meningkat, bisa jadi karena skrining yang dilakukan semakin kuat,” kata Ismed, Selasa, 30 Juni 2026.
BACA JUGA: Sri Puji Astuti: Tak Ada Tempat untuk LGBT di Ruang Publik
Ia menjelaskan, HIV termasuk penyakit menular yang harus ditemukan sejak awal. Dengan deteksi dini, pasien bisa segera masuk pengobatan dan risiko penularan dapat ditekan lebih cepat.
Dinkes mencatat sebagian besar kasus HIV yang ditemukan berada pada kelompok usia produktif atau rentang usia di kisaran 20 tahun hingga 40 tahun.
Sehingga, edukasi dan skrining terus diarahkan ke kelompok yang paling aktif secara sosial dan mobilitas.
“Kalau dirinci kelompok LSL masih menjadi proporsi terbesar dalam temuan kasus HIV,” jelasnya.
BACA JUGA: Hindari HIV/AIDS, Pemkot Bontang Lakukan Triple Eliminasi ke Ibu Hamil
Menurut Ismed, pola temuan seperti itu juga terjadi di banyak daerah lain di Indonesia. Karena itu, pendekatan kesehatan masyarakat harus dilakukan dengan hati-hati, terukur, dan tanpa stigma.
Hingga Juni 2026, sekitar 180 kasus baru HIV telah ditemukan di Samarinda. Dari jumlah itu, sekitar 140 orang sudah menjalani pengobatan sesuai prosedur kesehatan.
Dinkes terus mendorong pasien agar disiplin menjalani terapi. Pengobatan yang teratur dinilai penting untuk menjaga kondisi tubuh dan menekan risiko penularan kepada orang lain.
Selain HIV, Dinkes juga memperkuat penanganan Tuberkulosis atau TB. Dua penyakit ini sama-sama membutuhkan skrining cepat agar penderita tidak terlambat mendapat layanan kesehatan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
