Bankaltimtara

Picu Risiko Kanker: Pangan Gosong dan Gaya Hidup Kontemporer

Picu Risiko Kanker: Pangan Gosong dan Gaya Hidup Kontemporer

Ilustrasi junkfood. -Halodoc-

SANGATTA, NOMORSATUKALTIM— Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Samarinda mengingatkan, perubahan gaya hidup modern yang tidak diimbangi dengan pola konsumsi bijak dapat memicu ancaman kesehatan serius.

Kombinasi antara konsumsi pangan tinggi gula, karbohidrat, dan lemak secara terus-menerus, yang diperparah oleh kebiasaan begadang, kini menjadi pemicu utama melonjaknya tren penyakit tidak menular.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya BBPOM Samarinda, Pranandari Kenyowulan, dalam sosialisasi keamanan pangan di Ruang Akasia, Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Sangatta, Kutai Timur, Rabu (24/6/2026).

"Yang perlu menjadi perhatian adalah kebiasaan ini dilakukan hampir setiap hari. Makanan dan minuman tinggi gula, karbohidrat, dan lemak jika dikonsumsi terus-menerus dapat menjadi bumerang bagi kesehatan, terlebih jika disertai kebiasaan begadang dan kurang istirahat," ujar Pranandari.

BACA JUGA: Cegah Meningkatnya Penyakit Jantung, Pemkab Kutim MoU dengan 12 Rumah Sakit Daerah di Kaltim

Selain pola konsumsi, BBPOM menyoroti teknik pengolahan makanan yang salah di tingkat rumah tangga maupun pelaku usaha.

Kebiasaan memasak dengan suhu terlalu tinggi atau membakar makanan hingga hangus demi mengejar cita rasa gurih justru menghasilkan senyawa kimia karsinogenik yang memicu mutasi DNA dan pertumbuhan sel kanker tak terkendali.

Pranandari memaparkan bahwa dalam khazanah keamanan pangan, masyarakat harus mewaspadai tiga jenis cemaran utama, yakni bahaya kimia, biologis, dan fisik.

Bahaya kimia umumnya bersumber dari pembentukan senyawa karsinogenik akibat kesalahan pengolahan atau paparan zat aditif berbahaya.

BACA JUGA: Penyakit Cacing Hati Ditemukan di Beberapa Hewan Kurban di Bontang

Sementara itu, bahaya biologis meliputi kontaminasi mikrobiologi seperti bakteri, virus, dan jamur yang berpotensi memicu keracunan massal.

Adapun bahaya fisik mengintai lewat masuknya benda asing, seperti serpihan logam, pecahan kaca, atau material plastik ke dalam adonan makanan yang dikonsumsi masyarakat.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran dari kalangan orang tua murid.

Ana Indriawaty, seorang ibu rumah tangga di Kutai Timur, mengeluhkan lemahnya pengawasan terhadap rantai produksi pangan di lingkungan sekolah karena orang tua tidak bisa memantau langsung higienitas jajanan anak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: