PHK Meningkat, Klaim JKP di Samarinda Tembus 1.233 Kasus
Ilustrasi korban PHK.-istimewa-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Jumlah pekerja yang mengajukan manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) di Kota Samarinda mengalami lonjakan signifikan sepanjang awal 2026.
Dalam kurun Januari hingga Mei, pengajuan yang masuk telah mencapai lebih dari 1.233 kasus atau hampir menyamai total pengajuan sepanjang 2025 yang tercatat sekitar 1.600 kasus.
Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Samarinda, Murniati mengatakan, peningkatan tersebut menjadi gambaran bertambahnya jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan dalam beberapa bulan terakhir.
Tren itu terlihat dari tingginya permohonan manfaat JKP yang diajukan para pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) dari berbagai sektor usaha yang beroperasi di Samarinda dan sekitarnya.
BACA JUGA: Ribuan Pekerja Kutim Cairkan Klaim BPJS Ketenagakerjaan, Dampak Gelombang PHK?
“Kalau kita lihat, sekarang belum setengah tahun sudah lebih dari 1.200 yang mengajukan JKP, sementara tahun lalu satu tahun sekitar 1.600. Artinya memang ada peningkatan PHK,” katanya, Kamis, 17 Juni 2026.
Menurut Murniati, tingginya angka pengajuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi ketenagakerjaan masih menghadapi tantangan yang cukup besar.
Bahkan, dengan waktu yang belum mencapai pertengahan tahun, jumlah pekerja yang mengakses program JKP sudah mendekati capaian satu tahun penuh pada 2025.
Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan Samarinda, sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar pengajuan manfaat JKP.
BACA JUGA: 1.500 Pekerja Tambang di Kaltim Terancam PHK, Dampak Efisiensi Akibat Pemangkasan Produksi Batu Bara
Selama 5 bulan pertama tahun ini, sekitar 370 pekerja dari sektor tersebut tercatat mengajukan manfaat setelah mengalami PHK.
“Kalau disortir, memang paling banyak dari sektor tambang, terutama yang sifatnya PHK massal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, industri pertambangan memiliki karakteristik yang sangat dipengaruhi oleh keberlanjutan proyek, kontrak kerja, izin operasional, hingga kondisi bisnis perusahaan.
Ketika terjadi penghentian proyek atau penyesuaian operasional, dampaknya sering kali langsung dirasakan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
