Masihkah Mahasiswa Menjadi Agent of Change?
Chandra Ismi.-dok.pribadi-
Oleh: Chandra Ismi
DI tengah aksi demonstrasi Aliansi Balikpapan Bergerak di depan Gedung DPRD Balikpapan, pada Senin (15/6/2026) sore, ada satu suara yang justru paling membekas di ingatan saya.
Bukan suara orator. Bukan pula suara mahasiswa yang bergantian menyampaikan tuntutan. Melainkan suara seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari kerumunan sambil melakukan siaran langsung di media sosial.
“Yang demo pakai iPhone kok protes BBM naik.”
“Bensin naik ya memang waktunya naik.”
“Ngerokok bisa, BBM naik tidak terima.”
Ketika pembahasan beralih pada Tanjakan Rapak yang telah berulang kali memakan korban jiwa, ia kembali berkomentar.
“Itu kan takdir.”
Awalnya saya menganggap komentar itu biasa saja. Namun semakin lama saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa kalimat-kalimat tersebut mewakili cara pandang yang cukup sering muncul di sekitar kita. Cara pandang yang menganggap persoalan publik tidak perlu terlalu dipersoalkan.
“Harga naik? Ya sudah”.
“Kecelakaan? Takdir.”
“Keluhan masyarakat? Pasti ada saja yang mengeluh.”
“Demonstrasi? Hanya ribut-ribut di jalan.”
Padahal sejarah menunjukkan banyak perubahan lahir justru karena ada orang-orang yang memilih untuk tidak diam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
