Bankaltimtara

Pengamat Unmul Ungkap 3 Penyebab Rupiah Terus Tertekan Dolar AS

Pengamat Unmul Ungkap 3 Penyebab Rupiah Terus Tertekan Dolar AS

Diskusi publik yang digelar oleh BEM FEB Unmul menghadirkan berbagai narasumber mulai akademisi, hingga pakar peneliti dari (Intelligence Nasional Security Studies (INSS).-(Disway Kaltim/ Mayang Sari)-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Aji Sofyan Effendi, mengungkapkan 3 faktor utama yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Sofyan, penguatan dolar AS di pasar global, meningkatnya kebutuhan dolar di dalam negeri, serta pertumbuhan ekspor yang belum mampu mengimbangi kebutuhan devisa menjadi penyebab utama pelemahan rupiah.

Hal itu disampaikannya dalam Diskusi Publik Dinamika Nilai Tukar Rupiah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global di Samarinda, Jumat malam, 12 Juni 2026.

“Pertama dolar sedang kuat. Kedua permintaan dolar di dalam negeri meningkat. Ketiga ekspor Indonesia belum tumbuh secepat kebutuhan devisa,” ujarnya.

BACA JUGA: 2 Hari Pascakenaikan BI Rate, Modal Asing Masuk Rp19 Triliun Lewat SBN dan SRBI

Sofyan menjelaskan, pelemahan rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi tersebut merupakan dampak dari berbagai faktor global yang turut memengaruhi perekonomian Indonesia, termasuk Kalimantan Timur.

“Kita tidak berdiri sendiri. Apa yang terjadi di dunia akan berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia, termasuk Kaltim,” ujarnya.

Ia menyebut dunia saat ini masih dibayangi ketidakpastian akibat berbagai konflik geopolitik, mulai dari perang Rusia-Ukraina, konflik di Timur Tengah, hingga persaingan ekonomi antara Amerika Serikat dan China.

Situasi tersebut berdampak pada rantai pasok global, harga energi, harga pangan, serta aktivitas perdagangan internasional.

BACA JUGA: Bahlil Sebut Pemerintah Siapkan Insentif Kenaikan Harga Pertamax

Selain itu, tingginya suku bunga di Amerika Serikat membuat investor global lebih tertarik menyimpan dananya dalam aset berbasis dolar AS.

“Daripada berusaha dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, banyak investor memilih menyimpan dana dalam bentuk dolar,” katanya.

Kondisi itu mendorong arus modal kembali ke Amerika Serikat sekaligus memperkuat posisi dolar di pasar global.

Di sisi lain, kebutuhan dolar di dalam negeri juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi keuntungan investor asing.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: