Bankaltimtara

Kenangan Supporter Borneo FC: Kangen Nuansa Derby Kaltim

Kenangan Supporter Borneo FC: Kangen Nuansa Derby Kaltim

Supporter Borneo FC Kholid Saifullah (kiri) kangen masa-masa derby Kaltim melawan Persiba. -istimewa-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Romantisme masa kejayaan klub sepakbola Kaltim masih membekas kuat di ingatan para suporter. Sayangnya, rivalitas derby Kaltim yang dulu memanas, kini memudar. 

Kenangan tersebut muncul seiring kondisi sepak bola daerah saat ini. Borneo FC menjadi satu-satunya wakil Kaltim di Liga 1.

Sementara Persiba Balikpapan, yang dulu menjadi rival utama belum kembali ke level tertinggi. Alhasil atmosfer persaingan klasik tidak lagi terasa seperti sebelumnya.

“Di masa masih Persisam, saya rasa itu adalah masa kejayaan Pusamania, karena setiap kali tim mau bertanding di Segiri, suasana di sekitar rumah saya sudah ramai dengan gegap gempita,” ujar salah satu Pusamania, Kholid Syaifullah.

Ia menceritakan bagaimana kebersamaan dengan teman-teman dan warga sekitar menjadi bagian penting dari pengalaman mendukung tim.

Termasuk membuat poster sederhana dari karton dan kardus bertuliskan dukungan untuk menarik perhatian kamera televisi.

"Saya dulu bersama teman dan abang-abang di komplek menggambar di kertas karton dengan tulisan I Love Persisam dan I Love ANTV, dengan harapan bisa disorot kamera, dan itu menjadi momen yang sangat menyenangkan,” lanjutnya sambil tersenyum mengingat masa tersebut.

Menurutnya, salah satu hal yang sulit terulang adalah pemandangan Stadion Segiri yang dipenuhi warna oranye sebagai identitas kebanggaan warga Samarinda. Dimana saat itu hampir selalu terlihat penuh saat pertandingan berlangsung.

“Dulu tribun hampir penuh dengan warna oranye yang menjadi identitas warga Samarinda, dan rasanya sekarang sulit melihat Segiri penuh satu warna seperti itu lagi. Apalagi momen paling indah saat Persisam mendatangkan Cristian Gonzales."

Ia juga mengaku hampir selalu menyempatkan diri hadir ketika Persisam menghadapi Persiba Balikpapan dalam Derby Kaltim. Pertandingan ini dulunya dikenal memiliki tensi tinggi dan atmosfer yang berbeda dibandingkan pertandingan lainnya.

“Kalau melawan Persiba, saya hampir selalu nonton karena pada zaman itu Persiba sudah menjadi musuh utama, dan setiap pertandingan selalu berlangsung dengan tensi panas,” kenang Kholid.

Dalam suasana derby tersebut, ia mengingat adanya berbagai ekspresi suporter yang muncul. Mulai dari nyanyian hingga psy war (perang psikologi) yang menjadi bagian dari dinamika rivalitas. Meskipun terkadang diwarnai kalimat yang kurang nyaman didengar.

“Memang ada makian dan nyanyian yang mungkin tidak enak didengar, tapi itu bagian dari derby pada masa itu. Bahkan banyak teman-teman yang membuat kaos khusus bertuliskan psywar untuk Persiba,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara suporter kedua tim kini mengalami perubahan yang cukup signifikan. Di mana rivalitas yang dulu panas kini bergeser menjadi hubungan yang lebih bersahabat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: